Melihat WNI Asal Sagaranten Sukabumi Saat Jalani Puasa Ramadan di Luar Negeri

Warga Sagaranten, Kabupaten Sukabumi
Warga Sagaranten, Kabupaten Sukabumi Lesmana Pamungkas saat menjalani puasa di Jepang. Foto:Istimewa

Puasa Selama 15 Jam, Andalkan Aplikasi Adzan Pengingat Buka dan Sahur

Bulan Ramadan merupakan bulan yang amat penting bagi umat Muslim. Selain menjalankan ibadah puasa, ada beberapa tradisi yang biasanya dilakukan di Indonesia selama bulan puasa.

Namun, hal itu tidak dialami oleh para warga negara indonesia (WNI) yang sedang berada di luar negeri terutama negara yang mayoritas warganya non muslim.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut dirasakan oleh salah satunya warga Sagaranten, Kabupaten Sukabumi Lesmana Pamungkas yang menjalani ibadah puasa di Negara Sakura Jepang.

Widi Fitria — SUKABUMI

Pria berusia 28 tahun ini baru saja meninggalkan kampung halamannya di Sagarenten untuk pergi mengejar cita-citanya bekerja di Negara Jepang, Lesmana menjadi salah satu karyawan di Astra Bogor yang terpilih untuk mengikuti training di Manufaktur Otomotif Toyota Motor Corporation (TMC) Jepang. Lesmana sendiri mengaku baru tinggal dua minggu di Jepang dan ini merupakan pengalaman pertamanya puasa di luar negeri.

Ia sendiri mengaku sangat merindukan suasana puasa Ramadan di kampung halaman dengan berbagai cerita. Bagaimana gembiranya orang menyambut puasa, salat Tarawih di masjid, ngabuburit sambil mencari takjil sore hari, teriakan anak-anak muda keliling kampung untuk membangunkan sahur, hingga suara petasan yang acap kali dibunyikan bocah-bocah sekitar rumah.

Tetapi hal itu sudah tidak dirasakan lagi olehnya, sebab di Negara Jepang tepatnya di Kota Osaka dan penduduk negara tesebut didominasi beragama Shinto dan Budha, sisanya kebanyakan tidak beragama. Namun meski begitu menurutnya warga Jepang memiliki toleransi beragama yang cukup tinggi. Hal ini dirasakannya saat pertama kali bekerja di Jepang karena di Jepang sendiri di kenal dengan toleransi beragama

“Alhamdulilah saat ini masih puasa dan lulus sampai adzan magrib, untuk toleransi orang Jepang sendiri bagi kita yang berpuasa dilingkungan kerja, dirasa cukup baik selama tidak menggangu pekerjaan orang Jepang tetap menghargai agama dan keyakinan kita sebagai muslim,” akunya.

Bahkan sangat toleransinya warga Jepang kata Lesamana jam makan siang pun digantikan waktunya. Sehingga jatah makan siang bagi umat muslim diberikan pada sore hari.

” Ketika makan siang bagi yang berpuasa akan diganti dengan obento ketika pulang kerja jam 5 sore dan bisa dibawa ke apartmen untuk berbuka,” ungkapnya.

Diakui Lesmana toleransi beragama di Jepang sangat baik, asalkan menginformasikan terlebih dahulu kepada warga Jepang.

” Ngomong dulu saya adalah muslim dan diharuskan dalam agama kami berpuasa di bulan ini. Saya rasa kedatangan orang Indonesia di Jepang sudah sedari dulu jadi mereka pun sudah sedikit lebih banyak tahu tentang kebiasaan dan budaya orang Indonesia terutama tentang agama dan keyakinan,” terangnya.

Bagi Lesmana pengalaman pertama puasa di Jepang jauh berbeda dari Indonesia. Terutama dari rentang waktu puasa, di Jepang dimulai dari Pukul 04.05 dan buka puasa Pukul 18.30, atau selama 14 jam 30 menit, kalau di Indonesia sekitar 12 jam. Lalu orang disekelili lesmana didominasi non muslim.

” Ini menjadi hal baru ketika kita orang Indonesia berpuasa tengah orang yang tidak berpuasa membutuhkan sedikit kesabaran ekstra, apalagi lingkungan sekeliling kita banyak yang makan dan minum,” ungkapnya.

Untuk kondisi cuaca sendiri kata Lesmana di Jepang itu saat ini sedang musim panas sehingga harus lebih ekstra menahan lapar dan haus.

” Musim panas disini berbeda dengan di Indonesia. Musim panas disini suhu udaranya masih 19 derajat pas tengah hari dan bisa 3 derajat kalo malem, jadi bagi orang Indonesia cukup dingin suhu udaranya,” ucapnya.

Pengalaman keunikan lainnya yang dirasakan oleh Lesmana saat berpuasa di Negara Jepang salah satunya tidak bisa mendengar adzan. Meski di osaka terdapat beberapa masjid, namun jarak dari apatermen ke tempat mesjid cukup jauh hingga 3.5 km jaraknya dan harus menggunakan kereta.

Untuk menyiasati hal itu, ia dan teman-teman sesama WNI pun memasang aplikasi adzan untuk mengetahui buka puasa dan imsak. Bahkan untuk salat Tarawih ia melaksanakannya bersama teman-teman WNI yang berada muslim di apartemen.

Terlepas banyak tantangan yang dihadapi, Lesmana mengaku lebih khusyuk menjalankan puasa. Berpuasa seorang diri dalam waktu yang lama, di tengah musim panas dan tidak disertai dengan ritual keagamaan adalah cerita tersendiri yang belum tentu dialami setiap muslim.

“Alhamdulilah untuk puasa hingga saat ini masih lancar, disini juga dapat teman-teman baru dan ini tentunya menjadi pengalaman yang saya tidak akan lupakan dan mungkin tidak semua orang bisa membagikan ceritanya seperti saya. Insya allah ini menjadi pembelajaran dan pengalaman baru bagi saya tetap semangat,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.