ARTIKELCATATAN DAHLAN ISKAN

Tika Bima

×

Tika Bima

Sebarkan artikel ini
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan/Net

Rupanya Tika berhasil mendapat nomor telepon ayah Bima. Maka sebelum berangkat, Tika menelepon ayah Bima. Lalu Tika menghubungi saya.

Bank bjb Tandamata

“Ayah Bima akan pergi. Mungkin saya tidak bisa bertemu. Apakah saya jadi harus ke sana?” tanya Tika.

Saya berpikir sebentar. Antara kasihan dan memberi tantangan.

“Berangkat saja,” kata saya.

“Wartawan jangan terpaku pada hanya satu sumber. Kalau pun tidak bisa bertemu beliau Anda bisa bertemu teman-teman Bima di desa itu. Atau bertemu keluarga Bima yang lain. Atau guru-gurunya,” kata saya.

Mungkin Tika lagi mempertimbangkan apakah memadai berkubang-kubang tiga jam ke rumah Bima tanpa bertemu ayahnya. Tapi saya punya pengalaman panjang soal beginian. Kegigihan akan memberi hasil yang kadang di luar perkiraan.

Tidak ada tanda Tika mengeluh. Dia berangkat. Dia hanya bertanya apakah masih memadai ke desa yang begitu jauh.

“Setidaknya, di sepanjang perjalanan, Anda bisa menghitung ada berapa ratus kubangan menuju rumah Bima,” kata saya.

Maka pukul 09.10, Minggu pagi, Tika berangkat dari rumahnya. Dia naik sepeda motor milik sendiri. Bukan milik kantor. Tidak ada lagi media yang memberi kendaraan pada reporternya.

Jerih payah Tika membuahkan hasil.

Dia ternyata bisa bertemu keluarga Bima.

Lengkap.

Kakaknya, ibunya dan akhirnya ayahnya. Rupanya semua lubang di sepanjang jalan ikut mendoakan Tika.

Malam itu juga Tika sudah kirim tulisan. “Tulisan Anda bagus,” komentar yang saya kirim ke HP Tika.

“Sebenarnya saya wartawan TV. Tapi kadang membantu menulis di Radar Lampung Tengah. Kantornya jadi satu,” jawab Tika.

Hasil wawancara Tika itu sudah saya tulis di Disway kemarin. Hari ini saya menurunkan tulisan Tika, khusus mengenai lubang-lubang dajjal di sepanjang jalan itu. Saya juga menyertakan foto-foto yang dibuat Tika.(Dahlan Iskan)