Siklus Gempa dan Pengaburan Sejarah

Handi Salam

Oleh : Handi Salam

Ada petikan tembang dhandhanggula dari Babad ing Sang kala soal Gempa, “Nir buta iku bumi kala wong Pajang kendhih lungo tilar nagara Adipatinipun angungsi ing Giri Liman, ing Mataram angalih mring Karta singgih nir tasik buta tunggal”

Bacaan Lainnya

(“Ketika ’lenyap, berubah menjadi laut buminya’, orang-orang Pajang dikalahkan, mereka meninggalkan tanahnya. Adipati mereka mengungsi ke Giri Liman. Di Mataram, mereka berpindah ke Karta, memang, Ketika ’menghilang, semua kembali ke laut’”). Itu terjadi Antara Maret 1618 – Februari 1619.

Nampaknya ini, Tsunami sesudah gempa terjadi. Ceritanya mengarah ke gelombang yang pernah menyapu pesisir pantai selatan Jawa. Ada nir buta iku bumi”, ”nir tasik buta tunggal” ini menandai kekalahan pasukan Pajang tahun 1619.

Peristiwa ini terjadi di era Sultan Agung raja Kesultanan Mataram Islam yang memerintah pada tahun 1613 – 1645. Pada tahun 1617 Pajang yang dipimpin adipati adalah bawahan kerajaan Mataram. Pajang memberontak tapi dapat ditumpas dan mungkin bertepatan peristiwa bencana.Tulisan ini ditulis oleh Jogja_Uncover.

Kenapa peristiwa alam selalu terkait dengan peperangan Pajang vs Mataram?

Sejarah ditulis oleh penguasa. Mitologinya, gelombang itu akibat kemarahan pasukan Ratu Kidul yang naik kedaratan membantu Mataram.

Seru sekali, jika riset ini diperdalam. Namun, saya tidak punya banyak waktu. Tulisan ini tadinya mau ditulis Minggu saja baru bisa sekarang. Begitulah ceritanya.

Nah, soal Sejarah Gempa di pulau jawa memang sedikit dikaburkan. Sebetulnya, sumber air panas bisa menunjukan adanya struktur Sesar mendatar yang berhubungan dengan bagian permukaan sebagai penanda sesar atau sistem mata air panas.

Berdasarkan hasil kajian di UGM, Kedalaman sesar itu tidak lebih dari 40 KM, karena ketebalan pulau Jawa atau kerak benua hanya itu.

Ketika gempa deformasi batuannya ada di kedalaman 140an km, bisa aja berpengaruh terhadap sesar di atasnya untuk jangka panjang dan mingkin mempercepat siklusnya.

Pada saat jaman kolonial Belanda pasti ada yang mencatat  peristiwa ini secara lengkap sebagai bahan kajian sejarah keilmuan.

Namun, tentunya belum ada seismograf, pasalnya pengamatan gempa di Indonesia berawal tahun 1898 saat pemerintah Hindia Belanda mengoperasikan seismograf mekanik Ewing.

Baru kemudian, tahun 1900an, seismograf baru ada di Jakarta, Medan, Bengkulu sama Ambon. BMG (Sekarang BMKG) baru punya jaringan seismograf pertama kali di Indonesia itu tahun 1953 di Jakarta, Medan, Tangerang, Denpasar, Ujungpandang, Kupang, Jayapura, Manado dan Ambon.

Orang tua jaman dulu bukan lupa terkait gempa besar seperti tahun 1867. Konon katanya, berdasarkan cerita-cerita keturunannya, pemerintah dalam hal ini para raja-raja  mengambil sikap bijak membesarkan hati rakyatnya dengan mengajak masyarakat melupakan gempa.

Seperti di Wilayah Jogja Misalnya, dulu tercatat  dalam manuskrip Keraton Yogyakarta dengan candrasengkala “obah lapis pitung bumi ” atau “bergeraknya tujuh lapisan bumi” tahun 1867 Masehi.

Nah, sekarang timbul banyak pertanyaan.  Apakah erupsi gunung bisa memicu gempa ? Dan apakah gempa bisa memicu gunung erupsi?

Untuk menjawab itu tentunya kita harus pisahkan dulu antara gempa tektonik dengan vulkanik.

Gempa tektonik terjadi akibat saling berinteraksinya dua lempengan Bumi, dimana lempeng Indo-Australia menyusup di bawah Lempeng Eurasia. Batas kedua lempeng ini disebut zona Subduksi. Seperti gempa baru-baru ini di kedalaman lebih dari 40 meter.

Proses interaksi kedua lempeng selama jutaan tahun lebih ini juga membentuk gunung-gunung api dan patahan-patahan atau sesar di kepulauan Indonesia dan terus berlangsung sampai detik ini.

Gempa tektonik memiliki kekuatan kecil, menengah sampai kategori mega 8-9 SR. Gempa tektonik yang sangat kuat 8-9 SR disebut megathrust dan umumnya terjadi di batas zona Subduksi yang dangkal kurang dari 70km.

Sementara itu, gempa tektonik dari sesar darat di kepulauan umumnya memiliki kekuatan dibawah skala megathrust atau maksimum sekitar 7 koma sekian SR.

Bagaimana dengan gempa vulkanik, di sepanjang batas pertemuan antar lempeng yang saling dorong di zona penunjaman, selain terjadi gempa, gesekan antar lempeng juga menyebabkan batuan meleleh yang menjadi cikal bakal magma gunung api.

Batuan yang meleleh menjadi magma kemudian naik ke permukaan bumi melewati celah gunung api dan menyebabkan erupsi. Nah gempa vulkanik terjadi sebelum dan saat gunung api meletus ini karena adanya proses dari tekanan cairan magma yang naik

Kekuatan rata-rata gempa vulkanik kurang dari 5 SR yang menyebabkan getaran di permukaan, namun bersifat sangat lokal atau terbatas hanya di tubuh gunung dan area sekitarnya.

Timbul pertanyaan, Apakah gempa tektonik bisa menyebabkan gunung api erupsi ? Beberapa pakar bersilang pendapat tentang pertanyaan ini. Mengingat sepanjang sabuk gunung api letaknya paralel dengan jalur gempa bumi dimana erupsi gunung api umumnya terjadi di zona seismik aktif.

Atau, apakah erupsi gunung yang sebenarnya bisa memicu gempa ? Tidak mudah dijelaskan karena jikapun berhubungan belum diketahui pasti mekanisme sebab akibatnya.

Banyak peristiwa erupsi di muka bumi terjadi setelah gempa tektonik di sekitarnya, tapi banyak juga peristiwa erupsi yang tidak didahului gempa tektonik, begitu juga sebaliknya. Artinya gempa tektonik diduga kuat hanyalah faktor pemicu. Itupun hanya gempa yang memenuhi syarat.

Diantaranya adalah Gempa tektonik sangat besar. Gempa ini dapat memicu naiknya aliran magma dari dalam bumi ke kantung magma.

Contohnya, Pinatubo adalah contoh gunung api yang lama tertidur lebih 490 tahun kemudian aktif kembali akbat gempa dan meletus 9 Juni 1991 skala VEI 6. Didahului oleh gempa tektonik berkekuatan 7,8 dengan jarak 60 km timur laut dari Pinatubo.

Selanjutnya, gempa tektonik kuat di dekat gunung api yang tengah aktif atau kritis. Ini juga diduga mampu mengubah tekanan gas di dapur magma yang terkocok dan mempercepat erupsi.

Ketiga. Akumulasi tegangan pada sistem sesar yang terhubung ke gunung api. Tegangan ini dapat memicu erupsi gunung api karena menekan kantung magma

Akibat tegangan menekan dapur magma, selubung dapur magma dapat melemah. Pelemahan selubung menyebabkan migrasi magma ke atas, melewati retakan baru yang terbentuk hingga akhirnya meletus

 Ada yang harus dicatat, vulkanolog membedakan setiap gunung api berdasar karakternya. Artinya setiap gunung-gunung api memiliki perilaku berbeda dalam hubungannya terhadap gempa.

Tidak semua mendukung teori, bahwa gempa tektonik sebagai faktor pemicu gunung api aktif erupsi lebih cepat atau lebih besar, ada juga yang kontra. Ya, penelitian memang akan terus berkembang. Mungkin 10 tahun kedepan bisa terjawab.

Terakhir, sesar-sesar yang aktif khususnya sesar Cimandiri atau Sesar lembang, 130 tahun atau bahkan kurang untuk melepaskan energi besarnya.

Gempa megathrust terbesar di Indonesia dalam catatan modern. Bisa jadi pembuka gempa-gempa besar selanjutnya terutama di subduksi yang bisa memicu tsunami lagi terjadi. Dengan itu, diperlukan mitigasi bencana bagi masyarakat yang berada di jalur-jalur sesar, tidak hanya itu juga masyarakat yang menempati lokasi yang labil dan rawan harusnya segera direlokasi sedari awal.

Karena yang namanya gempa itu tidak membunuh. Perlu kesiapan masyarakat untuk mengetahui tempat tinggalnya aman atau tidak. Tetap waspada dengan mempedalam informasi soal gempa, jangan sampai termakan Hoax yang belakangan ini muncul setelah bencana itu terjadi. Cek Fakta dulu baru bertindak.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *