Novel Utopia Thomas More meskipun bergenre sastra namun telah memengaruhi para pemikir Eropa dari abad ke 16 sampai sekarang. Pertanyaan seperti bagaimana cara untuk mewujudkan Negara Utopia seperti yang dideskripsikan oleh More, sebuah wilayah tanpa perang dan kelaparan? Telah mengelompokkan para pemikir Eropa saat itu ke dalam aliran dan madzhab, terutama dalam bidang ekonomi.
Mugkin jawaban yang disodorkan oleh para pemikir dari mulai era kuno, era ekonomi keislaman seperti Abu Yusuf, era klasik seperti Adam Smith, Ricardo, Engel, Marx, Weber, John Stuart Mill, hingga era modern akan menimbulkan dialektika berkepanjangan. Berbeda dengan jawaban yang diberikan oleh Doraemon, dia hanya dengan menghubungi seorang penjual balon gas udara yang ada di masa depan, lantas dibawanya ke masa kini, kemudian tokoh-tokoh dalam film ini siap melakukan petualangan ke negeri-negeri yang serupa dengan Utopia.
Tak mengherankan teori yang dikemukakan oleh John Stuart Mill dan para saintis yang satu pemikiran dengannya dipandang sebagai konsep utopis oleh pemikir aliran lainnya. Penyebutan konsep utopis ini disandarkan pada Utopia karya Thomas More tersebut. Manusia modern pun memiliki pikiran serupa, mewujudkan negara Utopia hanya imajinasi saja seperti kisah fantasi yang dihadirkan dalam film Doraemon.
Sekarang menjadi lebih jelas, untuk mewujudkan kebaikan bersama, manusia dewasa memang harus menjiwai kembali dunia anak-anak yang ceria, bersih, tidak mudah putus asa, cek-cok sebentar kembali pahade, dan berjiwa suci. Sayang sekali, manusia dewasa seperti kita sering memandang dunia anak hanya berupa masa lalu dan bukan ciri manusia dewasa.
Makanya, formula yang dibuat oleh manusia-manusia dewasa terlihat banyak mengatur dunia anak-anak. Tidak sedikit seperangkat aturan yang dibuat dan diterbitkan bukannya menempatkan anak-anak pada ekosistem dan dunianya, namun menarik mereka untuk terjun bebas agar lebih cepat tumbuh menjadi dewasa.
Saya dan teman-teman yang tumbuh berkembang sebagai anak-anak di tahun 80-an dan 90-an tentu patut bersyukur. Dari masa kanak-kanak ke arah remaja berjalan cukup lambat. Kami pernah mengalami seperti apa yang diperankan oleh tokoh-tokoh dalam film Doraemon. Untuk menjadi manusia bahagia, saat itu kami hanya perlu terjun dan berenang di kolam mesjid, bermain di sawah, hujan-hujanan, dan melakukan permainan anak-anak.
Akhir-akhir ini, kita mungkin sering menyaksikan manusia dewasa begitu berbahagia saat ulang tahunnya dirayakan, meniup lilin, tepuk tangan, nyanyi dan joget, serta potong kue. Hakikatnya, mereka kembali ke masa kanak-kanak, sedang menghadirkan dunia utopis ke dalam kehidupan dewasanya. Manusia dewasa yang sedang berulang tahun, tidak akan marah meskipun kepalanya ditaburi tepung, dipukul dengan telur, diguyur air, hingga dilemparkan ke dalam kolam. Seperti itulah kehidupan di negara Utopia, tanpa perang dan kelaparan. ***





