Sepanjang Jalan Kenangan: Sukabumi Tahun 80-90an (Bagian 5)

kang-warsa

Semua hal di atas adalah kisah; Era Hindia Belanda telah menyelesaikan kisah tentang pengelompokan masyarakat berdasarkan tiga kelas sosial, era Orde Lama telah menyelesaikan kisah tentang revolusi dan perjuangan, dan era Orde Baru telah menyelesaikan kisah Majapahit-Sentris dengan ciri khas keamanan, ketertiban, dan ketahanan pangan. Semua kisah yang telah dibangun memang menemui tragedinya masing-masing, di samping kenangan-kenangan indah yang dirasakan oleh rakyat saat peristiwa itu terjadi.

Kota Madya Daerah Tk II Sukabumi pada tahun 80-90an memang merupakan kota yang benar-benar kecil. Dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain di Jawa Barat, wilayah Kota Sukabumi saat itu hanya terdiri dari Cikole, Citamiang, Warudoyong, dan Gunungpuyuh. Disempurnakan dengan sistem sentralisasi Orde Baru, maka setiap kebijakan yang diterbitkan  pun harus bersesuaian bahkan menyesuaikan dengan regulasi pusat.

Bacaan Lainnya

Kisah yang dibangun oleh pemerintah pusat dan daerah tidak terlalu berpengaruh bagi masyarakat, karena saya memiliki keyakinan, pemerintah dari pusat hingga daerah sudah tentu memiliki niat baik bagi masyarakat yang mereka kelola. Namun alam selalu memberi pertanda dengan pesan-pesan yang acapkali tidak kita cerna secara tepat. Seperti kondisi sejuk dan adem di kawasan Jalan R. Syamsudin, S.H dan Jalan Ir. H. Juanda merupakan pertanda alam tentang kebijaksanaan dan seperangkat aturan publik memang harus terbit dari sana, tanpa campur tangan keriuhan para kawula apalagi Tuccha.

Lantas, apakah rencana pemindahan pusat perkantoran ke Kecamatan Cibeureum menjadi hal krusial dan urgen dilakukan oleh pemerintah saat ini? Relevankan pemindahan pusat perkantoran dari Cikole ke Kecamatan Cibeureum dengan kondisi kecamatan tersebut? Untuk memindahkan pusat perkantoran dan pemerintahan memang mudah, walakin sejumlah syarat yang telah saya sebutkan tadi tetap harus terpenuhi; tempat sejuk, terhindar dari keramaian, memenuhi konsep tritangtu, dan jauh dari bisikan kelompok Tuccha.

Jika syarat-syarat tersebut belum terpenuhi, saat perkantoran dan pusat pemerintahan telah pindah pun, alam akan memberikan jawaban yang tepat: kita memang terlalu grasak-grusuk dalam mengeluarkan kebijakan, nyatanya kerap berkontradiksi dengan kehendak alam. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *