Pinokio

kang-warsa

Oleh: Kang Warsa

Pinokio memanjang hidungnya ketika berbohong. Jika saja, manusia seperti saya ini diciptakan oleh Tuhan sama seperti halnya Geppeto yang membuat karakter seorang Pinokio, entah sudah berapa meter, bahkan mungkin kilometer panjangnya hidung ini.

Bacaan Lainnya

Barangkali, ada rahasia Tuhan, kenapa karakter manusia dan watak bohongnya tersembunyi di dalam hati meskipun tabiat dari seorang pembohong bisa diketahui lewat bahasa tubuh, cara bersikap, lirikan mata, juga bisa dideteksi oleh alat pelacak kebohongan. Tetap saja, kantong-kantong kejujuran dalam hati manusia lah yang bisa merawat karakter, bahwa kita bohong.

Jika ukuran dan kadar kebohongan seseorang ditentukan oleh memanjangnya hidung, maka dalam hidup ini tidak akan ada kepura-puraan, hipokrisi, manipulasi, dan kamuflase. Orang akan menjaga ucapan agar tetap sesuai dengan hati.

Karya-karya sastra tidak akan dipolesi oleh fantasi-fantasi khayali, surealisme, bahkan realisme dalam berbagai karya pun sulit dibedakan, kasus-kasus besar tidak akan terjadi, kebohongan publik pun sangat kecil dilakukan, buku-buku sejarah adalah sejarah yang senyata-nyatanya sejarah.

Kenapa hidung manusia tidak memanjang ketika berbohong? Rahasianya terletak pada: kesanggupan kita dalam memperjuangkan kejujuran.

Karena jujur adalah watak, begitu pun bohong. Kedua sifat ini tidak diwariskan secara genetika kecuali diwariskan melalui rekayasa sosial dan lingkungan, demikian ungkap Walter Lippman.

Untuk melihat jujur dan tidaknya sebuah negara pun pada dasarnya sederhana, lihat saja, peristiwa-peristiwa keseharian kita sebagai warga negara. Headline surat kabar, juga acara-acara televisi.

Ada takarannya, jika peristiwa-peristiwa keseharian di negara ini adalah kasus-kasus penipuan, kamuflase, dan akal-akalan, kita sudah bisa menilainya, kita sedang berada di negara pembohong.

Sebaliknya, jika headline-headline surat kabar banyak memberitakan ketahanan pangan, petani sukses, dan upaya-upaya kreatif bangsa dalam membangun struktur negaranya, sudah bisa ditebak, kita sedang hidup di Negara Jujur. Jujur dan bohong bisa diciptakan.

Anak Saya pernah bertanya, karena di sekolah- sudah pasti diajarkan nilai-nilai kejujuran di lembaga pendidikan tersebut- seorang guru pernah berkata: sekolah ini gratis, tidak dipungut uang sekolah atau SPP. Kepolosan seorang anak kecil mewujud dalam sebuah pertanyaan: “ Kata Bapak Guru, Sekolah gratis, tapi kenapa Ayah dan Ibu selalu memberikan uang bayaran setiap bulan ke Sekolah?”.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *