Pemimpin ‘Pasti’ Selalu Salah

Oleh: Handi Salam
*Redaktur di Radar Sukabumi

PAGI-PAGI saya terbiasa ngopi, bukan karena suka. Tapi, lebih kepada sekedar menghilangkan rasa kantuk yang masih tersisa sehabis tidur. Namun, ada yang berbeda pada pagi itu. Karena aktifitas ngopi sedikit tergaggu dengan siaran televisi yang menanyangkan berita politik yang kian tidak jelas. Saling menuding dan saling menyalahkan satu kubu dan yang lain adalah satu kewajaran selama dianggap masih normal. Beda cerita ketika sudah ke arah fisik dan teror hingga cacian yang kelewatan.

Bacaan Lainnya

Hari ini, jelang tahun politik apapun menjadi unik dan menggelitik orang untuk ikut komentar, padahal apa guna bagi kehidupannya kedepan, toh tanpa bekerja apakah masih bisa mendapatkan uang dengan ikut-ikutan berkomentar. Ahli filsafat Yunani Hesiodotus pernah menulis puisi yang berjudul Work and Days. Di dalamnya ia berpendapat, bahwa kerja adalah isi utama dari kehidupan manusia. Nah, apakah saat ini berkomentar pedas terhadap pemimpin adalah pekerjaan? Entahlah saya tidak terlalu tau soal isi jalan fikiran mereka. Yang aku tau adalah Kopi yang terbaik adalah kopi Gayo Aceh baik diminum saat suasana sudah mulai tegang.

Baca Juga : Teror dan Kegetiran Politik

Terbaru saya, menerima pesan dari teman soal gonjang-ganjing warga yang ikut berkomentar soal kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Korea. Yang jadi membuat saya sedikit terseyum adalah komentar masyarakat yang lucu, mereka saling hujat antara yang setuju dan yang tidak presiden bertemu dan foto bersama dengan artis boyband Super Junior. Entah, naluri masyarakat kita yang sudah mengakar soal kelatahan berkometar atau tidak, yang jelas hal sekecil itupun menjadi pembahasan yang seolah-olah masalah besar.

Rene Descartes (1596-1650) pernah menulis bahwa didalam jiwa manusia ada dua  persoalan tentang hubungan antara psikis atau jiwa (mind) dan badan (min-body problem) yang berbeda. Mungkin, yang terjadi saat ini benar apa kata Rene bahwa jika masyarakat psikisnya sudah banyak terganggu, maka kehidupan tidak akan berjalan normal. Kenapa saya berkata demikian, karena hampir setiap kegiatan pemimpinnya, baik itu RT, Kades, Bupati, Walikota dan Gubernur hingga Presiden yang dianggap salah langsung mendapatkan respon yang buruk. Padahal, kalau secara normal sebelum menilai seseorang seharusnya dilihat dari beberapa sudut pandang.

Saat ini, masyarakat termasuk saya memiliki kebiasaan menyalahkan orang dengan satu kesalahan yang dibuatnya tanpa melihat prestasi sebelumnya. Seorang RT sekalipun pernah curhat kepada saya, bahwa untuk menjadi ketua RT sekalipun saat ini sangatlah tidak mudah. Contohnya, ketika melakukan 10 kebaikan untuk kepentingan masyarakat akan hilang dengan satu kesalahan dimata masyarakat. Jadi pada dasarnya, untuk menjadi pemimpin saat ini harus tanpa kesalahan.

Ibarat kata kalau kopi itu pas, pas airnya, pas gulanya dan pas kopinya. Jika tidak, maka kopi sebaik kopi Gayopun akan menjadi masalah jika sajiannya tidak pas. Sulit memang menjadi pemimpin yang nol persen kesalahan, apalagi yang dipimpinnya sudah merasa dan sudah tertanam kebencian dihatinya. Sebaik apapun yang dilakukan, maka dimata pembenci tidak benar.

Contohnya dulu ketika Sukarno dekat dengan Negara Komunis Uni Soviet, banyak masyarakat tidak setuju. Pembangunan lapangan sepak bola yang sekarang disebut Gelora Bung karno bukan tanpa penolakan. Banyak sekali yang menolak dan ancaman, namun dengan hati dan jiwa pemimpin yang dimiliki Sukarno waktu itu jadilah lapang sepak bola yang megah. Entah apa yang terjadi jika Sukarno tidak bisa bertahan dalam pendirianya untuk membangun Gelora Bung karno dari dana pinjaman Uni Soviet. Mungkin kita tak pernah memiliki lapangan tersebut.

Pada akhirnya saya berpendapat, bahwa menjadi pemimpin dan masyarakat sama-sama rumit. Hampir disetiap masa kepemimpinan selalu ada yang pro dan kontra, baik itu di sebuah negeri yang memiliki pola kepemerintahan berbentuk kerajaan sekalipun, selalu saja ada dinamika dua pendapat, setuju atau tidak setuju.

Tak terkecuali di negara kita, sebagai negara yang menjungjung demokrasi tentu masalah pro dan kontra soal pendapat adalah hal yang biasa. Namun sebaiknya, perbedaan pendapat bisa disalurkan melalui jalur yang sewajarnya dan tidak berlebihan hingga sampai menjelekkan pemimpin yang sah.

Jika kita tidak menyukai seseorang, apalagi seorang pemimpin, tidak ada salahnya disuarakan dalam hati saja. Tidak perlulah mengajak orang lain untuk ikut membenci. Kasian orang yang tidak mengerti apa- apa, ikut-ikutan latah tidak menyukai seseorang, tanpa tahu alasan yang sebenarnya dan tanpa data yang faktual.

Dan berdasarkan undang-undang di negara manapun, seorang kepala negara adalah simbol negara tersebut. Bila ada sebagian pihak yang merasa tidak puas dengan gaya kepimpinam seorang kepala negara, silahkan untuk menggantinya melalui prosedural yang benar.

Baca Juga: Propaganda Slebor

Asalkan melalui peraturan dan perundang-undangan yang berlaku secara konstitusional. Sehingga siapapun yang menghina seorang kepala negara, berarti menghina simbol negara tersebut. Karena dialah pemimpin yang sah, yang dipilih berdasarkan ketentuan yang legitimate.

Maka sungguh tak elok, bila kita mengeluarkan komentar hingga menjelekkan seorang pemimpin secara berlebihan. Dengan menghina seorang kepala negara berarti kita menghina suatu bangsa. Sudah sepatutnya kita menghormati seorang pemimpin negara, selayaknya kita menghormati suatu bangsa.

Bila kita tidak menyukai seorang pemimpin, tak perlulah berteriak, menghina, mendemo. Tahun 2019 tinggal menghitung bulan. Pergunakanlah pemilu untuk memilih pemimpin yang bisa menyuarakan aspirasi rakyat banyak.

Siapapun yang terpilih saat Pilpres nanti, tentunya adalah seorang yang terbaik bagi nusa dan bangsa. Dan seluruh masyarakat yang berbeda pilihan, janganlah saling membenci dan bermusuhan. Janganlah terjebak oleh pihak-pihak yang mengadu domba demi kepentingan segelintir golongan. Ingatlah sejarah bangsa kita merdeka karena persatuan bukan perpecahan. (*)

Pos terkait