Orang Setengah ‘Gila’

Oleh: Handi Salam
*Redaktur di Radar Sukabumi

Orang gila yang mengaku gila akan cepat sembuhnya dari pada orang gila mengaku sehat. Penyataan muncul saat bertemu orang yang terlihat sehat, namun pikirannya dan kejiwaanya terganggu. Akibat orang semacam itu saya bersama seorang teman hampir tersesat saat berlibur di Lembah Gunung Gede Pangrango pada Sabtu 31 Agustus kemarin.

Bacaan Lainnya

Saat pertama kali bertemu dengan orang itu, awalnya bingung dan bertanya dalam hati, apakah saya yang gila atau memang orang itu yang setengah gila. Obrolan dan kata-katanya awalnya sangat menyakinkan kami berdua. Rasa ramah ditunjukan dengan begitu khas, tak curiga meski kami baru pertama bertemu ditengah perjalanan.

Sebetulnya Kami berdua tak begitu menghiraukan kebenaran apa yang dikatakan olehnya dengan kembali bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Dirasa, masih terbilang jauh dan keburu sore kami memutuskan untuk kembali turun ke bawah. Lagi-lagi saya bertemu dengan pria yang saya sebut ‘Setengah Gila’ itu. Dengan, ucapan ramah orang tersebut menunjukan kami jalan pintas yang katanya jauh lebih baik dari pada jalur pertama kami lewati yang begitu terjal.

Tak berfikir macam-macam saya bersama teman saya menuruti apa yang dikatakan olehnya dengan menggunakan jalur pintas yang ditunjuknya. Apa yang terjadi, kami dibuat tertawa sekaligus terheran-heran dibuatnya, apa yang dikatakan jalur pintas yang katanya lebih nyaman dan besar ternyata berbanding terbalik dengan jalan pertama dilewati.

Kami tertawa, mau marah dan pasrah bahwa jalan lain yang dilewati tak lebih bagus dari jalan pertama. Situasi ini, juga mengingatkan akan situasi negeri subur ini yang terlihat banyak kegilaan yang dilakukan para pejabatnya. Sawah saat ini tak lagi menumbukan padi, jagung dan makanan saja. Tapi bisa menumbukan pabrik dan perumahan bersubsidi rakyatnya.

Burung-burung yang bernyanyi merdu lebih banyak didengar dari rumah-rumah mewah ketimbang di alam bebas. Entahlah, apakah nyanyian penderitaan atau nyanyian kegembiraan untuk majikannya. Yang pasti, kita tak pernah sadar, air yang kita miliki secara gratis harus ditukar dengan keringat dan uangnya dinikmati para pengusaha asing.

Kesuburan menyuburkan konglomerat yang mengikis habis kaum melarat. Mana ada bangsa yang sesubur ini, yang memberikan rumah dan gaji kepada para penganggur setiap tahun. Rampok bisa tidak kapok saat diberikan rekomendasi amplop sakti penguasa. Tokoh Samson juga ikut terseyum melihat amplop bisa mengatur hal-hal yang tidak teratur. Memutuskan putusan yang tidak kunjung putus, dan memutus putusan yang sudah putus.

Bahkan Batman juga akan sedikit bingung ketika amplop bisa menguasi penguasa dan mengendalikan orang bisa menjadi luar biasa. Mencairkan sesuatu yang tak kunjung cair, membekukan yang mencair. Sedihnya, Mustofa Bisri atau yang kita kenal Gusmus dalam puisinya ketika amplop bisa membuat orang bicara menjadi bisu, orang mendengar bisa menjadi tuli, orang alim bisa menjadi nafsu dan orang sakti bisa menjadi mati.

Dari pada pusing mari kita menghibur diri, melihat tingkah laku para pejabat yang bisa mengocok perut dengan kebijakan-kebijakan yang tak masuk diakal. Seorang Purnawiran berpangkat terakhir Kapten (inf) kemarin mengeluh dan membuat pernyataan terbuka, hingga ramai diperbincangkan.

Saya coba menayakan hal itu kepada Kapten (inf) Ruslan lewat WhatsAppnya. Kok bisa beraninya mengkritik pemerintah dan mantan atasannya. Jawabannya cukup singkat, ‘Saya juga berhak memikirkan mereka (prajurit red) yang berada di Papua yang bisa saja binasa oleh oknum masyarakat setempat akibat kebijakan salah pemimpinnya’, tulisnya.

Ada benarnya penyataan musisi asal Bandung Budi Dalton yang mengatakan ‘Ada waktunya kita belajar kepada ‘orang gila’ pada saat ‘orang waras’ sudah tidak dapat memberikan contoh yang baik’. Tapi bagaimana jika kita belajar kepada orang yang ‘setengah gila’ yang jalannya miring, bisanya mengumbar janji padahal hanya mementingkan kepentingan sendiri dan kelompoknya.

Ada udang dibalik batu, udangnya keras kepala. Pergaulan saat ini tidak seakrab dulu. Saat ini masing-masing sudah terseret dengan kepentingan sendiri dan kelompoknya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.