ARTIKEL

Ngopi Asyik di Kedai Kopi Sukabumi: Atraksi Masyarakat Urban Milenial

×

Ngopi Asyik di Kedai Kopi Sukabumi: Atraksi Masyarakat Urban Milenial

Sebarkan artikel ini
kang-warsa

Tahun 2014, kedai kopi sebagai ruang publik tidak sekadar dijadikan tempat nongkrong oleh para pengunjung. Analog Kopi, pernah menggagas, kedai kopi sebagai tempat untuk mendiskusikan berbagai hal dari yang remeh-temeh hingga tajuk-tajuk besar. Pengunjung tidak hanya datang menikmati sajian kopi, juga memiliki hak untuk menginspirasi, mengapresiasi, dan membicarakan kotanya sendiri. Kedai kopi seyogianya melengkapi diri juga dengan buku-buku dan sumber bacaan untuk membangun literasi para pelanggan.

Selain itu, Analog Kopi juga menjadikan ornamen-ornamen klasik sebagai atribut untuk mengidentifikasi perbedaan keberadaan mereka dari kedai lainnya. Misalnya dengan memajang barang antik, menggunakan pemutar musik vinyl, dan sesekali memperdengarkan  musik genre jazz kepada pengunjung. Bagi masyarakat urban perkotaan tertentu, musik jazz dengan kopi seperti dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Bank bjb Tandamata

Kopi Gaud memiliki cerita lain. Kedai kopi yang terletak tak jauh dari Masjid Agung ini relatif dikunjungi oleh pelanggan yang telah matang dalam usia. Kedai ini sesekali menyajikan atraksi musik langsung. Musik  genre pop dan country tampaknya lebih mendominasi dalam pertunjukan-pertunjukan musik di Gaud ini.

Idealisme yang dibangun oleh setiap kedai dan warung kopi tentu berbeda. Kopi memang selalu sarat dengan berbagai penafsiran, mulai dari cara penyajian, jenis kopi yang dipilih, latar belakang pelanggan, dan keterhubungan antara preferensi pengunjung dengan pengelolanya. Terlepas dari itu, keberadaan kedai kopi dan warung kopi di Kota Sukabumi memang tidak lepas dari masa lalu Sukabumi di abad ke-19 dan 20. Perkebunan kopi pernah menjadi salah satu sumber penghasilan pemilik perkebunan.

Sukabumi sebagai penghasil kopi pernah ditulis oleh J.M Knaud dalam buku Herinneringen Aan Soeka Boemi (Sukabumi Dalam Kenangan): Pada akhir tahun 1813, waktu penjajahan Inggris periode pemerintahan Raffles, datanglah seseorang bernama Andries de Wilde yang menjabat sebagai Administratur Perkebunan Gunung Parang. Perkebunan ini letaknya lereng bagian selatan Gunung Gede di Tanah Parahyangan, Pada waktu itu kopi masih merupakan penghasilan utama di daerah ini sebelum teh muncul dan mendesak tanaman kopi.

JIka kita dapat membaca keterhubungan antara masa lalu dengan masa kini dengan jeli, era milenial yang ditandai oleh kehadiran berbagai kedai dan warung kopi harus diimbangi oleh ketersediaan pasokan kopi dari perkebunan setempat (Sukabumi).

Upaya mungkin sudah dimulai di beberapa perkebunan, seperti di Sagaranten. Aroma yang dihasilkan oleh kopi tidak hanya menghipnotis penikmatnya saja, kopi sebagai mutiara hitam pernah menjadi pemantik bagi para pengusaha Eropa untuk mengarungi samudra, hingga singgah di Nusantara selama beberapa abad. ***