Sore itu si Karala lagi bersih-bersih mobil di dekat masjid temporer. Mobil itu kail baginya. Pekerjaannya: antar jemput staf Neom. Tiga orang kulit putih. Pagi berangkat dari Tabuk ke Neom. Petang dari Neom ke Tabuk.
Si Karala melihat jam. Kepalanya bergoyang-goyang. “Waktunya tinggal dua jam,” gerak bibir di bawah kumis tebal itu. Mengantar saya ke Tabuk tidak mungkin. Terlalu jauh. Kalau telat kembali ke Neom kontrak antar-jemputnya bisa diputus. Bahkan kena denda.
“Ke Duba saja mau?” tanyanya pada saya.
“Ke mana saja. Asal bisa keluar dari sini,” jawab saya.
Perjalanan ke Duba satu jam. Berarti ia bisa tiba kembali di Neom dalam dua jam. Pas dengan jadwal mengantar pulang tiga orang kulit putih itu.
“Ke Duba saja,” katanya.
“Berapa?” tanya saya.
“200 riyal,” jawabnya.
“300 riyal,” kata saya menawar. Kali ini tidak untuk lebih hemat.
“Sekarang!” jawabnya dengan senyum khas India. Kepalanya agak sedikit digelengkan.
Saya pun pamit ke pemuda Pakistan itu. Saya buka dompet di depannya. Ia menolak keras.
Si Karala pun memacu mobil ke arah selatan. Menyusuri pantai Laut Merah. Sama sekali tidak indah. Hanya proyek. Proyek. Proyek. Debu. Debu. Debu.
Deru dan debu.
Saya berdoa agar perjalanan ini selamat. Terutama agar si Karala tidak diputus kontrak kerjanya. Agar ia dapat uceng tanpa kehilangan deleg-nya.(*)




