Masihkah Ada Damai Di Hatimu?

  • Whatsapp

Oleh: Handi Salam
Redaktur Di Radar Sukabumi

PERDAMAIAN adalah harapan semua orang dibelahan negara manapun, mungkin tidak ada satupun negara anti perdamaian. Buktinya, setelah perang dunia ke II selesai pada tahun 1945 berdiri Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations (UN). Tujuannya jelas, untuk mencegah terjadinya perang antara negara terjadi lagi dan menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

Bacaan Lainnya

Namun, Organisasi Internasional dengan memiliki 193 Anggota ini tak cukup untuk menghentikan perang, pembantaian dan kejahatan terjadi disebuah negara. Buktinya sampai saat ini masih saja ada negara yang dalam kondisi perang. Bulan lalu, tepatnya 17 Agustus kita semua merayakan kemerdekaan. Hidup damai akibat kemerdekaan yang sekarang dirasakan bukan tanpa pengorbanan, tentu buah hasil dari peperang para pahlawan mengusir penjajah. Ada pepatah pribahasa latin mengatakan ‘Si vis pacem, para bellum’ (Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang).

Kalau diartikan dalam kondisi saat ini, pribahasa tersebut konteksnya bukan lagi perang yang sesungguhnya. Karena negara ini sudah merdeka tidak harus berperang kembali. Saya juga tidak mau harus kembali perang apalagi perang saudara. Ya, dalam kontek lain saya setuju jika ingin mengharapkan damai kita harus berperang itu bisa diartikan perang melawan hawa nafsu, iri, dengki, fitnah dan hasud kepada orang lain. Jika menang kita pasti hidup damai.

Beberapa bulan kebelakang kondisi politik di negara ini sedikit panas, saling hujat dan fitnah bertebaran lewat akun media sosial, masyarakat terpecah menjadi dua kelompok. Untung saja, lima hari kebelakang ada moment tak biasa , ketika bakal calon Presiden yang akan datang Jokowi dan Prabowo Subianto berpelukan saat merayakan kemenangan atlet pencak silat Hanifan Yudani pada Rabu (29/8) lalu.

Bukan kah kita pernah belajar sejarah, bahwa akibat politik ‘devide et impera’ negeri kita dijajah belanda dan jepang. Namun, tetap saja naluri kita seolah lupa. Bahkan saya sendiri masih bingung, ketika ada orang yang mencari kedamaian dengan berbagai cara. Tak sedikit, orang yang hidup zaman saat ini susah untuk mendapatkan damai.

Baca Juga: Hidup Atau Mati

Ada berapa banyak orang yang tidak bisa tidur nyenyak karena hidupnya tidak damai, ada berapa banyak orang yang menyalahgunakan narkoba untuk merasakan kedamaian. Dan ada berapa banyak orang korupsi karena menyangka hidup damai itu ada pada uang.

Saya pernah ditanya oleh seorang pemuka agama. Kenapa semua orang bekerja membanting tulang, pagi dijadikan siang, siang dijadikan malam dan bahkan hingga pekerjaan harampun dilakukan, mereka lakukan semata untuk mencari kebahagian di dunia dan ujungnya hidup damai serba berkecukupan. Namun, apakah mereka mendapatkan damai. Ada yang mendapatkan ada yang tidak. Tapi kebanyakan orang tidak menemukan damai yang ada kecemasan, kerengsaan, gundah dan rasa khawatir berkepanjangan hingga sulit tidur dengan nyenyak.

Dalam hati saya bersyukur orang tua saya memberi nama belakang saya Salam haha, karena dalam kitab Abrahamik dan bahasa arab Salam itu adalah damai. Konsep agama yang dinyakini semua manusia didunia ini intinya adalah perdamaian. Tapi mengapa, semakin dicari dan dipelajari kedamaian tersebut semakin jauh.

Tentunya ada yang salah, saya pribadi sangat setuju apa yang dikatakan ulama bahwa jika kita mengetahui musuh secara jelas dan kemudian mengalahkanya maka damai itu akan datang. Yang jadi masalahnya, manusia saat ini lupa dan pura-pura lupa dan bahkan tidak sedikit tidak mengetahui musuh sebenarnya siapa. Padahal kalau kita tarik benang merahnya ke awal kehidupan manusia ini dimulai tentu bisa menyadarinya.

Ya, benar bahwa musuh kita adalah setan. Akibat godaan setan, Adam dan Hawa turun ke bumi. Dari sini tentunya sudah mulai bisa menyimpulkan. Bahwa ketika musuh kita sudah jelas, mengapa kita repot-repot harus mengurusi orang lain hingga saling bertengkar, berbuat hasud, saling fitnah, dan menjatuhkan manusia lainnya. Padahal musuh manusia sesungguhnya adalah setan, namun kita lupa dan tidak merasakannya.

Disisi lain saya juga berfikir, jikalaulah tidak ada setan didunia ini. Terus apa yang akan menjadi ujian manusia didunia ini. Dan seadainya bangsa Yahudi dibunuh Hitler semuanya, mungkin negara palestina tidak akan terus berada dalam konsidi perang. Dan seandainya hidup manusia semuanya melakukan kebenaran, apakah masih ada hukum diciptakan manusia.

Kalau secara logika bisa saja tuhan berkendak apapun yang dia inginkan, mematikan bangsa Yahudi, Penjahat, Koruptor, dan manusia rakus lainnya. Tapi tuhan tidak demikian, karena mereka dibutuhkan didunia ini untuk dijadikan peringatan dan pelajaran untuk kita semua. Bagi saya seorang pemabuk sekalipun akan dijadikan guru, karena dengan meihat pemabuk hidup meracau membuat saya belajar untuk tidak menjadi pemabuk.

Immanuel Kant seorang filsuf Jerman, di dalam bukunya yang berjudul ‘Zum ewigen Frieden’ atau Tentang Perdamaian Abadi. Bahwa inti perdamaian adalah saling menghormati perbedaan satu sana lain dalam satu hukum dan udang-udang yang berpijak pada akal budi, kebebasan serta rasa hormat satu sama lain.

Didunia ini tidak ada satu manusiapun yang sama sekalipun dilahirkan secara bersamaan. Kita dilahirkan atas perbedaan, sudah seharusnya belajar menghargai perbedaan dengan tidak saling menjatuhkan. Untuk mecari damai dalam perbedaan sudah seharusnya kembali kepada masing-masing individu. Karena sebetulnya rasa damai itu bukan dicari pada materi semata karena hal tersebut adalah suatu alat, tetap saja harus bisa mengenali diri sendiri apakah damai itu masih ada dihatimu atau tidak?

Saya tidak mengajarkan siapapun, faktanya saya juga masih jauh dari kata damai. Sesekali masih saja menuruti perintah hawa dan nafsu, dan bahkan berbuat jahat pada diri sendiri. Karena faktanya semua kata-kata hanyalah sebatas buih rangkaian kalimat saja, jika tidak bisa dipraktekan dikehidupan nyata. Meski masih jauh dari kata damai setidaknya saya mencoba untuk membuka jalan damai tersebut, karena saya berfikir bukan perkara berhasil atau tidaknya mendapatkan hidup damai. Tapi proses mencari jalan damai itu yang terpenting. (*)

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 Komentar