Impor Darah

  • Whatsapp
Fawzy Ahmad

Oleh: Fawzy Ahmad

KURANG. Begitulah jawaban yang kerap dilontarkan para Kepala Unit Transfusi Daerah PMI se-Indonesia ketika ditanya wartawan tentang stok darah. Tentu penyebabnya bisa ditebak yakni karena pandemi COVID-19.

Bacaan Lainnya

COVID-19 di Indonesia genap berusia setahun lebih sebulan. Awal Maret 2020 lalu Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama ada di Jawa Barat, tepatnya Kota Depok. Masih cukup dekat dengan Sukabumi. Kalau lewat Tol Bocimi (Bogor-Ciawi-Sukabumi) sekira 2 jam 30 menit perjalanan.

Namun pada Maret tahun lalu, ketersediaan stok darah di UTD PMI kabupaten kota se-Indonesia masih aman. Semisal di PMI Kota Sukabumi, angka normal setiap bulannya yakni 2000 kantong darah. Namun pada April 2020, angka tersebut perlahan mudun alias turun perlahan. Hingga pada puncaknya, yakni pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) adalah krisis stok darah nasional.

PSBB membuat mobilitas segala lini sektor sangat terbatasi. Termasuk keinginan orang yang ingin melakukan ‘sedekah’ darah di UTD PMI. Sedikit-sedkit corona, sedikit-sedikit covid. Maka PMI termasuk pihak yang sangat menderita akibat adanya pandemi dan aturan PSBB yang kini berganti nama menjadi PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

Merujuk dari angka normal UTD PMI Kota Sukabumi di 2000 kantong darah per bulan. Kini turun drastis menjadi 1000 kantong. Bahkan pernah di bawah angka tersebut. Bahwa faktanya, permasalahan kesehatan tidak hanya melulu corona. Sedianya ada empat, yakni penyakit thalasemia, anemia, demam berdarah, hingga kasus seperti pendarahan hebat korban kecelakaan dan ibu melahirkan dengan hemaglobin di bawah 10. Jika ini tidak ditangani dengan cepat, tepat dan cermat oleh PMI, maka dapat diprediksi akan banyak kasus kematian yang terjadi di luar dari corona.

Orang-orang UTD PMI lantas harus memutar otak agar stok darah setiap bulannya tercukupi untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan transufsi darah. Entah bagaimana caranya itu. Namun di awal tahun 2021, problem itu kian terjawab seiring dengan turunnya kasus COVID-19 di Indonesia.

Pihak UTD PMI Kota Sukabumi sendiri mengkonfirmasi telah terjadi peningkatan yang cukup melegakan dari angka 1000 menjadi 1200 kantong darah. Hal ini lewat gerilya para staf UTD untuk meyakinkan warga masyarakat agar tidak takut untuk mendonorkan darah. Seiring jalannya waktu, kepedulian pun mulai tumbuh. Animo masyarakat saat mengetahui jadwal mobile unit donor darah PMI pun kian tinggi. Mulai semangat lagi. Ghiroh ruang aftap (ruang donor darah) membuncah. Akan tetapi, problem lainnya muncul. Problem itu bernama vaksin COVID-19.

Disebut problem lantaran warga yang telah menerima vaksin baru boleh melakukan donor darah dua bulan dari sejak penerimaan vaksin dosis kedua. Artinya, selama dua bulan tersebut stok kantong darah akan mengalami krisis (lagi). Belum lagi pada April hingga Mei adalah bulan puasa. Tren umumnya, frekuensi donor darah juga berkurang selama bulan Ramadan. Stok kantong darah di PMI terancam krisis parah.

Sementara itu. Di kasus lain yang berbeda masalah, tapi punya kesamaan, pemerintah mewacanakan kebijakan impor beras 1 juta ton. Pada kasus ini, wacana impor beras menjadi masalah lantaran ketersediaan beras dari petani dalam negeri terbilang cukup. Lantas kebijakan yang digemborkan untuk kepentingan rakyat ini sukses menuai reaksi penolakan dan kecaman dari banyak pihak.

Menurut pemahaman orang awam, impor hanya menguntungkan orang dari negera lain. Dalam hal ini, petani luar negeri. Yang artinya lagi, wacana kebijakan impor beras akan merugikan petani dalam negeri. Sementara Indonesia terkenal sebagai negara dengan sumber daya pangan terbaik di Asia Tenggara. Lantas mengapa harus impor beras? Sedangkan produksi beras dari sawah dan petani di Indonesia sendiri masih tercukupi.

Tapi mungkin pemerintah punya hitung-hitungan tersendiri. Entah hitungan seperti apa yang dimaksud. Yang pasti salah satu ‘komoditi’ yang mengalami krisis saat ini adalah stok darah. Nah, pertanyaannya berubah. Mungkinkah pemerintah melakukan impor darah? (*)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *