Kisah Haman dihadirkan di dalam pentateukh karena satu alasan, dia merupakan tokoh sentral yang membenci bangsa Yahudi di Babilonia saat kerajaan ini dipimpin oleh Ahasuerus sekitar tahun 486 SM.
Bangsa Yahudi menempatkan Haman sebagai sosok antagonis karena dia merupakan tokoh di balik intimidasi, penangkapan, penyiksaan, hingga pembantaian orang-orang Yahudi. Rasa sakit hati bangsa Yahudi ini memang lumrah, mengingat Yahudi memiliki andil besar dalam membangun setiap peradaban mulai dari pendirian Piramid Mesir, Menara Babel, Istana Gantung Babilonia, dan bangunan lainnya.
Namun mereka harus mendapatkan perlakuan sebagai kaum pesakitan dari induk semangnya hanya karena hasutan. Satu alasan mendasar, kenapa kaum illuminati mempertahankan simbol-simbol kuno dari Mesir dan Babel karena simbol-simbol ini memang diciptakan oleh bangsa Yahudi.
Penyebutan Firaun dan Haman juga menjadi lebih trendi saat memasuki wilayah politik. Penguasa atau Presiden yang tidak sejalan dengan keinginan politik satu kelompok sering diidentikkan mirip dengan Firaun.
Perbandingan yang kurang fair mengingat Firaun secara politis justru telah berhasil membawa Meses sampai di puncak peradaban. Penyebutan ini terjadi mengingat sosok Firaun telah menjadi musuh bersama 3 agama mayor. Bahkan, Firaun dapat saja disejajarkan dengan setan yang memiliki wujud dan kasat mata. (*)





