Catatan Hazairin Sitepu

Pasport Kehendak Allah (2) Allah Mengantar ke Nabawi

×

Pasport Kehendak Allah (2) Allah Mengantar ke Nabawi

Sebarkan artikel ini
Hazairin-Sitepu
Hazairin Sitepu

Tiba di Madina, saya cepat-cepat keluar dari stasiun. Bertanya ke petugas harus naik kendaraan apa ke Masjid Nabawi. “Ada dua cara. Mau naik taksi atau bus. Semuanya sampai Nabawi,” kata petugas berbaju keream dan bercelana cokelat itu.

Saya pilih naik bis. Hanya bayar 11,5 real. Kurang-lebih 25 menit bis itu tiba di ujung jalan dekat dari Masjid Nabawi. Menara-menara masjid tampak menjulang tinggi. Indah sekali.

Bank bjb Tandamata

Bergegas ke halaman masjid. Ambil wudhu. Cepat-cepat masuk ke dalam masjid untuk salat asar. Sepertinya larangan petugas Maktab masih menghantui.

“Alhamdulillah. Saya akhirnya sampai di masjid rasul-Mu ini tanpa membawa pasport. Ya Allah, Engkau membawaku ke sini tanpa kendala apa pun. Semua urusan Engkau mudahkan. Ini anugerah besar yang Engkau berikan kepada ku. Engkau kabulkan doaku di depan Ka’bah Mu. Terima kasih ya Allah.” Itu doa besar yang ku panjatkan.

Saya akhirnya benar-benar ke Madinah Naik Haramain Ekspres. Tanpa pasport di tangan. Berziarah ke Makam Rasulullah Muhammad SAW dengan berlinang air mata.

Menyelesaikan salat lima waktu penuh di Masjid Nabawi. Ketika menulis ini saya sudah di Mekkah Al-Mukarramah. **