Ekspedisi Gerakan Anak Negeri Edisi Baduy 2

Hazairin Sitepu saat berbincang dengan warga Baduy Luar
AKRAB: CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu saat berbincang dengan warga Baduy Luar.

Ketika Gadis-Gadis Baduy Pergi ke Sungai

HUJAN belum berhenti turun. Suara petir bahkan baru mulai mengelegar di seantero Cibogoh. Pohon-pohon tinggi di depan rumah Bapak Kasman tampak menari-nari. Angin memang mulai bertiup kencang.

Letaknya di kemiringan bukit. Di depannya banyak batu berselimut tanah liat. Banyak pepohonan. Kira-kira seratus langkah dari Sungai Cibogoh. Meski adanya paling Selatan kampung, rumah Bapak Kasman ini sangat strategis. Dari teras saya melihat gadis-gadis Baduy berpayung daun pisang berjalan sangat cepat. Naik-turun jalan bebatuan, menuju sungai. Kembali dari sungai pun langkah mereka sangat cepat.

Bacaan Lainnya

Saya memang disambut Bapak Kasman dan keluarga di rumahnya itu. Dijamu hida ngan istimewa: gula aren dan air putih hangat. Santi pun ikut menyambut. Juga Jidan, kakaknya. Saya hadir di Cibogoh

Minggu sore itu untuk meng hadiri pernikahan Santi dengan Agus Senin keesokan harinya. Pernikahan adat yang penuh misteri.

Kasman adalah ayah Jidan dan Santi. Sore menjelang magrib tiba-tiba banyak pemuda dan remaja, juga gadis-gadis, berjalan cepat menuju sungai. Dalam pikiran saya kemung kinan mereka hendak mandi. Saya pun menyusul ke sungai ingin melihat seperti apa orang Baduy mandi rame-rame.

Disiram rintik hujan dengan suara petir yang terus menggelegar, entah berapa kali terpeleset di atas batu-batu licin, saya pun sampai di tepi sungai yang mengalir deras itu. Airnya keruh. Lalu di pelataran tepi sungai saya melihat banyak tungku yang apinya sedang menyala.

Di atas tungku-tungku ada kuali berisi air. Lebih dari 20 orang berada di sekitar tungkutungku itu. Masing-masing mereka memegang ayam yang sudah disembelih. Lalu dicelupkan ke dalam air panas dalam kuali.

Ternyata pemudapemuda, remaja-remaja dan gadis-gadis Baduy itu hendak melakukan satu ritual di tepi sungai di senjakala itu. Ritual membersihkan ayam. Bukan mandi rame-rame.

Saya sudah memulai malam di Baduy. Kampung Cibogoh makin gelap. Rumah tempat saya dan rombongan tinggal makin lebih gelap lagi.

Apakah bisa salat magrib?

Bagaimana makan malam nanti. Bagaimana mandi?

Sementara air di sungai sedang keruh. Sedang banjir, lantaran hujan yang terus turun di Baduy?

“Insyaallah keadaannya tidak separah pikiran saya. Toh datang ke Baduy ini untuk mengalami hal-hal yang belum atau tidak pernah dialami,” kata saya dalam hati.

Ingin berwudhu di air pancuran bambu. Kira-kira 100 meter dari rumah. Ini tempat mandi umum pria.
Kalau ada yang sedang mandi di situ tanpa penutup benda yang paling aurat, tidak masalah. Toh sama-sama pria. Saya cuman ingin berwudhu.
Tetapi saya harus membatalkan rencana itu setelah terpeleset di atas batu-batu berlumpur di jalan depan rumah tempat saya tinggal.

Sendal yang saya gunakan pun talinya nyaris putus. Lagi pula tidak ada gunanya saya berwudhu ke sana kalau kembali dengan kaki penuh lumpur.

Mata saya pun liar ke samping kanan rumah, menangkap benda hitam besar mirip drum.

Persis di tiris paling pojok. Saya datang ke benda itu. “Alhamdulillah. Ini gentong. Ada airnya,” kata saya setengah berteriak memberi tahu temanteman.

Gentong itu memang sengaja ditaruh di situ untuk menadah air hujan yang jatuh dari atap rumah. Setelah wudhu, kamipun salat berjamaah yang dijamak magrib-isya. Apakah ini salat berjamaah pertama di Baduy?

Hanya Allah yang tahu. Dan keraguan apakah bisa wudhu, apakah bisa salat, terjawab sudah. Alhamdulillah.

Makan malam sebenarnya sudah digabung dengan makan siang pada sore hari tadi. Menjelang magrib. Menunya: nasi akel, ayam panggang dan sambal petai. Nasinya sama dengan nasi pada umumnya di luar Baduy. Begitu pun ayam panggangnya. Yang bikin lebih bernafsu makan adalah sambal petai itu. Semua kami bilang “Ini sambal petai paling enak.”

Bagian ketiga tulisan ini saya menceritakan bagaimana kami melewati malam yang dingin di Baduy. Bagaimana turun dari gunung menembus malam gelap-gulita hanya untuk buang air besar. (**)

Pos terkait