Ternyata ia orang Irlandia. Sudah dua tahun tinggal di Beijing. Membawa serta cinta Liverpoolnya. Ia adalah guru bahasa Inggris. Untuk anak-anak TK sekolah swasta. Ia menyukai anak-anak. Ia ingin terus memperpanjang kontraknya. Sampai setidaknya lima tahun. Gajinya memuaskannya: Rp 50 juta/bulan.
Kami makin akrab. Saya beritahu bahwa saya pernah ke Irlandia. Sampai ke pelosoknya. Saya tunjukkan peta pedalaman itu. Ia kaget. Kampungnya tidak jauh dari situ. Merangkul saya lagi. Lebih lama. April lalu ternyata ia juga ke Pyongyang. Yang lagi semarak. Memperingati hari kelahiran Kim Il Sung.
Ia jatuh cinta pada Pyongyang. Ia setuju semua apa yang saya ucapkan. Tentang penilaian saya atas Pyongyang. Seperti yang saya tulis beberapa seri di Disway. Emosinya tambah meluap. ”Saya mau ke sana lagi. I love Kim Jong-Un”, teriaknya.
Lalu menghilang. Eh, datang lagi. Membawa tiga botol bir. Yang sudah dibuka tutupnya. Diletakkan di depan saya. Dengan hentakan botol yang menimbulkan bunyi mengagetkan. ”Mari bersulang. Untuk kim Jong-Un,” teriaknya.Saya ambil satu botol. Saya angkat tinggi-tinggi. Saya benturkan ke gelasnya. ”Kim Jong-Un wan sui,” kata saya.
Ia tertawa lebar. Ia sudah mengerti sedikit-sedikit bahasa Mandarin. ”Wo ai Kim Jong-Un,” balasnya. Dalam Mandarin logat Irlandia. Ia memaki-maki pemimpin negara barat. Yang memberi kesan Korea Utara begitu buruknya. Gooollll…! Liverpool cetak gol. Lewat kaki Mohamad Salah.
Ia kaget. Semua pengunjung cafe berteriak. Ia bergegas melihat ke layar. Melihat ulangan terjadinya gol. Lalu meneriakkan nyanyian berjudul Mo Salah. Khas pendukung Liverpool. Sambil keliling dari meja ke meja. Mengajak yang lain menyanyi. Saya ikut menyanyi. Hafal sedikit. Ketularan teman-teman BigReds. Saat sering nonton bareng Liverpool di Surabaya. Di Cafe DejaVu. Yang tanpa AC. Seperti terbakar. Yang penuh asap rokok. Yang nuansa riuhnya mirip di stadion.



