CATATAN DAHLAN ISKAN

Ke Tambora Lewat Pulau Moyo

×

Ke Tambora Lewat Pulau Moyo

Sebarkan artikel ini

Itu untuk menggantikan sistem lama di Jawa: petani kirim tebu, pabrik menggilingnya, pabrik mengolahnya jadi gula, baru petani bisa menjual gulanya. Sistem lama itu ruwet. Sering menimbulkan masalah. Petani tidak tahu: tebu sekian ton yang dikirimnya itu bisa menjadi berapa ton gula. Pasrah saja ke pabrik. Lalu muncul saling curiga.

Ada persoalan rendemen. Ada persoalan efisiensi pabrik. Kalau pabriknya tidak efisien petani ikut menanggung akibatnya. Petani sering mencurigai pabrik: memainkan prosentasi rendemen. Dengan sistem baru di Tambora ini tidak ada peluang untuk saling curiga. Simple dan beres.

Bank bjb Tandamata

Tapi belum tentu pabrik gula di Jawa bisa meniru Tambora. Ini persoalan cash flow besar. Pabrik gula harus siap dengan uang besar. Belum tentu pabrik gula di Jawa punya uang seperti di Tambora. Dengan sistem beli putus di Tambora itu petani tebu tidak akan ribut. Kegagalan manajemen di pabrik urusan pabrik sendiri.

Bukan berarti petani tebu Tambora tidak pusing. Persoalannya: di Tambora ini tanah begitu kering. Belum ada pemikiran sistem pengairan baru. Saya lihat ini: tanaman tebu di situ begitu kurus batangnya. Begitu kerontang daunnya.

Perkiraan saya: satu hektar hanya menghasilkan 30 ton. Bandingkan dengan lokasi yang lebih berat di Sumba timur: bisa 90 ton. Dengan teknologi pengairan barunya. Tambora: yang debu letusan gunungnya pernah menggelapkan langit sampai New York. Tambora: kini mulai menanam tebu. Apa adanya.

 

(dahlan iskan)