CATATAN DAHLAN ISKAN

Halangan Dupersemar untuk Tan Hock Eng

×

Halangan Dupersemar untuk Tan Hock Eng

Sebarkan artikel ini

Satu perusahaan mau dibeli dengan harga segitu: siapa yang tidak terpaksa menjual! Tapi Tan Hock Eng sejak awal sudah menduga: akan banyak halangan. Ia sudah mendengar perusahaan chip Intel keberatan. Pemerintah Amerika turun tangan. Padahal Tan Hock Eng sudah pasang kuda-kuda: tidak keberatan Broadcom menjadi perusahaan Amerika. Memindah kantor pusatnya: dari Singapura ke sana.

Tan Hock Eng juga sudah berjanji: akan mengalokasikan USD 2 miliar untuk dana riset. Dan USD 6 miliar untuk mendirikan pabrik di AS. Toh dekrit presiden keluar. Dupersemar membatalkan transaksi itu. Tan Hock Eng anak orang miskin. Ia cerdas luar biasa. Setamat SMA di Penang ia mendapat bea siswa: kuliah di MIT. Saat umurnya 18 tahun.

Bank bjb Tandamata

Dari MIT ia sekolah lagi. Ambil manajemen. Dapat gelar MBA di Harvard. Tan Hock Englah yang membuat Broadcon menjadi emas. Harga saham Broadcom menjadi di atas USD 200. Perlembar. Sebelum ia jadi CEO dulu hanya USD 30/lembar. Bonus yang ia peroleh luar biasa besar. Membuatnya menjadi CEO dengan pendapatan terbesar di seluruh dunia. Perusahaan memang sangat menghargai CEO yang berhasil. Dengan uang besar dan saham.

Awalnya hanya sebuah unit kerja di HP. Yang mengerjakan komponen untuk komputer HP. Lalu dipisah menjadi unit usaha. Itu tahun 1961. Tahun 1999 unit usaha itu tingkatkan lagi menjadi sebuah perusahaan. Terbentuklah Agilent Tech. Enam tahun kemudian, tahun 2005, Agilent dibeli oleh KKR. Diubah namanya menjadi Avago. Tidak lama kemudian Avago merekrut Tan Hock Eng jadi CEO.

Di mata Avago, Tan Hock Eng sangat istimewa. Avago tidak keberatan Tan tetap merangkap di jabatan sebelumnya. Yang begitu banyak. Yang begitu tinggi. Misal: CEO Integrated Circuit System, Vice Presiden Finance Comodore International, Senior Adviser Pepsi dan General Motor serta penasehat pemerintah Singapura dan Malaysia.

Sejak itulah Avago melakukan berbagai aksi korporasi. Gila-gilaan. Semua sukses. Harga sahamnya melejit-jit-jit. Terakhir Avago membeli Broadcom. Membeli LSI Logistic. Dan menjadikan Broadcom sebagai holding. Menjadi terbesar nomor tiga dunia. Tapi Tan Hock Eng mendapat sandungan di langkah terakhir: Dupersemar itu.