“Jika alokasi dana kelurahan telah ada dasar hukumnya, maka tidak masalah! Jangan karena sebagai Presiden, dirinya kemudian bisa bergerak di luar aturan. Itu tidak boleh!” tekannya.
“Karena setiap kebijakan adalah produk politik, jika kemudian Presiden memandang kritik tersebut sifatnya politis, kami sebenarnya sangat kasihan. Sebab, secara tidak langsung Presiden sedang mempertontonkan ketidakpahamannya. Sikapi secara rasional-proporsional. Jangan baper,” lanjutnya.
Kedua, tambah Heri Gunawan, menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) “sontoloyo” adalah ungkapan makian. Yang mana untuk sebagian besar masyarakat, kata Sontoloyo itu jauh dari adab dan adat ketimuran.
Sayangnya, Jokowi sebagai Presiden malah mengeluarkan makian semacam itu di tengah semangat demokrasi damai, sehat yang telah disepakati bersama. Makanya, semestinya, Jokowi yang juga sedang menjadi Capres, dapat lebih hati-hati dalam memilih diksi yang sensitif dan diksi yang menuduh bahkan provokatif.
Lebih lanjut ditegaskannya, ungkapan Jokowi ini kontradiktif dengan ajakan adu gagasan, adu konsep, adu program, yang selalu digaungkannya sendiri.
Parahnya lagi, masih banyak lagi pernyataan yang dikeluarkan Jokowi yang kontradiktif dengan ajakan adu gagasan tersebut. Misalnya pada pekan lalu, Jokowi juga mengungkapkan istilah politik kebohongan.





