“Jadi kalau ada yang bilang AHY hanya membawa nama besar SBY, saya kira itu suatu kesimpulan yang prematur karena hanya berbasis opini. Comment sense atau akal sehat bisa menyesatkan jika tidak disertai dengan data,” imbuh Emrus.
Selain itu, tidak selamanya putra seorang Presiden memiliki konotasi negatif. Bukankah George Bush jadi presiden kemudian anaknya Bush junior kemudian juga menjadi presiden. Jadi sangat mentah alasan, karena dia anaknya SBY, AHY dianggap tidak layak jual,” paparnya. Justru, kata Emrus, AHY memiliki kelebihan dibanding figur-figur calon presiden dan wakil presiden dari segi kedekatan dengan generasi milenial.
Dimana perilaku pemilih sangat melekat dengan figur yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan pemilihnya. “Dari votting behavior, orang akan memilih ketika dia homogen dengan seorang sosok. Bukankah AHY itu representasi dari kaum milenial. Kaum milenial homogen atau melekat dengan ciri-ciri yang ada pada AHY, sehingga ini nilai jual. Siapapun pasangannya,” jelas dia.
“Walaupun saya tidak tahu lobi-lobi politik di belakang, andaikan AHY dipasangkan dengan Joko Widodo saya kira bagus. Tapi kembali lagi saya tidak mengeahui bagaimana lobi-lobi politik di belakang panggung,” tutup Emrus.
(fiq)



