Menyaksikan Pilkada Pertama di Luar WIlayah yang Dijalani Pengungsi Syiah

  • Whatsapp

Dengan masih diakui sebagai warga Sampang lewat hak pilih, para pengungsi Syiah di Sidoarjo berharap bisa pulang ke kampung halaman. Tapi, masih khawatir hasil pilihan akan dijadikan alat untuk “menembak” balik.

MIFTAKHUL F.S., Sidoarjo

JAM di dinding memperlihatkan pukul 06.45 WIB. Sesuai aturan, masih 15 menit lagi sebelum waktu mencoblos dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) dimulai. Dan, akan berakhir pada pukul 13.00

. Meski begitu, puluhan orang sudah merapat ke tempat pemungutan suara (TPS) di Flat Puspa Agro, Taman, Sidoarjo, Jawa Timur, kemarin (27/6). Beberapa di antaranya sudah berusia lanjut. Kakek-kakek dan nenek-nenek. Juga, beberapa perempuan yang sedang menggendong bayi.

Begitu antusias. Padahal, yang akan mereka pilih adalah bupati dan wakil bupati Sampang, kabupaten yang letaknya nun di Pulau Madura sana. Ratusan kilometer dari Sidoarjo. “Walau kondisi kami seperti ini, kami tetap memutuskan memilih sebagai bentuk tanggung jawab menjadi warga Sampang,” sambung Iklil Al Milal, salah seorang pemilih.

Iklil dan orang-orang di TPS itu merupakan bagian dari pengungsi Syiah di Flat Puspa Agro. Bukan satu dua hari mereka dipaksa mengungsi ratusan kilometer dari kampung halamannya di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Blu’uran, Kecamatan Karangpenang, Sampang. Bukan pula dalam hitungan dua tiga bulan.

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *