“Jika dulu ada lagu yang populer berjudul ‘jangan ada dusta diantara kita’, yang kini dilakukan oleh Moeldoko adalah ‘dusta di atas dusta’,” katanya.
Dia melanjutkan, dirinya ingat kisah pewayangan Jawa tentang ‘Petruk Dadi Ratu’. Kisah itu sesungguhnya bercerita tentang orang yang tidak punya kapasitas dan integritas tapi kebelet menjadi raja. Bagi Petruk, menjadi raja atau pemimpin itu adalah semata-mata tahta dan harta, bukannya amanah dan tanggung jawab.
“Siapa sangka pada abad 21 ini, kita melihat drama Petruk atau abdi dalem yang kebelet jadi pemimpin. Dia menggunakan segala cara untuk mencapai hasratnya, tidak peduli apakah dia harus terus berdusta, melanggar etika maupun hukum yang berlaku,” ungkapnya.
“Kini kita sedang menyaksikan abdi dalem bernama Moeldoko sedang berakrobat dan menebar dusta dalam memenuhi hasratnya menjadi pemimpin, termasuk dengan cara merampas milik orang lain,” tuturnya.
Sebelumnya, Moeldoko mengatakan bahwa adanya kekisruhan di internal Partai Demokrat. Oleh karena itu, dia menerima pinangan menjadi ketua umum Partai Demokrat.
Mantan Panglima TNI ini menyebut adanya pertarungan ideologis di dalam partai berlogo bintang mercy ini menjelang Pemilu 2024. Sehingga ini adalah ancaman bagi Indonesia.
“Terjadi pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024. Pertarungan ini terstruktur dan gampang dikenali, ini menjadi ancaman bagi cita-cita menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.
Moeldoko berujar adanya Kongres Luar Biasa (KLB) ini semata-mata bukan hanya menyelamatkan Partai Demokrat. Namun ada kepentingan yang lebih besar yakni menyelamatkan Indonesia.






