“Keberagaman itu sudah menjadi sunnatullah. Kebhinekaan di Tanah Air kita sudah termaktub di lauhul makhfudz. Maka para ulama telah mewanti-wanti, dahulukanlah adabmu sebelum kau junjung ilmumu,” katanya.
Ganjar menambahkan, banyak kisah yang mengajarkan sikap toleransi. Bahkan saking luar biasanya sisi kemanusiaan Rasulullah, beliau seminggu tiga kali menyuapi seorang nenek Yahudi, dengan suapan yang sangat lembut.“Padahal nenek Yahudi tersebut tidak henti-hentinya menjelek-jelekkan Rasulullah,” imbuhnya.
Sikap toleransi juga ditunjukkan para wali di Nusantara, seperti Sunan Kudus, yang demi menghormati pemeluk agama Hindu, dia melarang muridnya untuk menyembelih sapi.”Laku untuk menghargai dan menghormati siapapun, termasuk yang berbeda keyakinan, telah dicontohkan sejak dulu oleh pendahulu-pendahulu kita,” tegasnya.
Untuk itu, saat ini tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak menerapkan kemuliaan akhlak tersebut.”Kami berharap akulturasi agama dan budaya dijadikan spirit untuk memperkukuh kebangsaan. Mudah-mudahan kita sellau ingat tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” tandasnya. (wir)






