Lanjut Iman, terlepas dari pro dan kontra terkait dinasti politik, baginya Gibran sebagai kaum muda hal itu sebuah momentum ataupun sejarah, bahwa dia merupakan anak muda yang berani tampil menjadi calon wakil presiden yang selama ini dianggap tabu di Indonesia.
“Di negara-negara lain banyak anak-anak muda yang berhasil menjadi perdana menteri, menjadi presiden usia 30, 35, 40, banyak, jadi tidak tabu. Dan ini optimistis kita, tentu dia (Gibran) akan belajar dari pengalaman orang tuanya, saya kira tentang politik dinasti, ini kan dipilih oleh rakyat, tidak ditentukan oleh presiden atau wakil presiden atau oleh hanya sekelompok, atau hanya oleh partai politik, ini kan baru masuk kontestasi,” bebernya.
“Nanti rakyat yang akan menentukan, siapa pemimpin kita yang selanjutnya, jadi saya kira kalau bahasa politik dinasiti itu kurang pas ya, ini adalah kesempatan untuk anak-anak muda Indonesia yang punya karir, yang punya pengalaman di eksekutif,” sambungnya.
Kedepan sudah tidak perlu ragu lagi, kata Iman lagi, siapa pun itu, bukan hanya Gibran Rakabuming Raka tentu momen tersebut bisa menjadi motivasi bagi masyarakat Indonesia terutama kaum muda Indonesia untuk jangan takut menjadi pemimpin jika memang mempunyai pengalaman, latar belakang yang bagus, gagasan dan ide.
“Kenapa tidak, dan ada partai yang mendukung. Ini kan hampir bulat semua mendukung partai Koalisi Indonesia Maju, ketua umum kami mas AHY mendukung, proses ini saya kira tidak ada lagi penolakan, semua harus berjalan,” tandasnya. (Ndi)






