Pilkada serentak di berbagai kawasan terpencil harus dilalui dulu dengan perjuangan mengatasi kesulitan mengirimkan surat suara. Harus berhitung dengan cuaca, kondisi jalan, dan biaya tambahan.
DARI atas helikopter, Izak Hikoyabi cemas. Mengkhawatirkan kondisi surat suara yang tersimpan dalam puluhan kotak itu Sebab, kotak-kotak itu harus dilempar dari helikopter yang melayang 2-3 meter di atas tanah.
“Tapi ternyata, di bawah masyarakat distrik setempat sudah siap berjaga, menyambut penyelenggara tingkat distrik dan perlengkapan pemungutan suara yang didistribusikan tersebut,” tutur Izak, yang kala itu menjadi kepala Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jayapura, kepada Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group).
Di Distrik Airu, Kabupaten Jayapura, empat tahun silam itu, helikopter tak mendarat karena harus segera bersicepat mengedarkan surat suara. Ke distrikdistrik lain yang sama terpencilnya dengan Airu. Kalau tidak, juga cuaca keburu memburuk, bisa berbahaya.
Di Papua, kondisi cuaca memang bisa sangat cepat berubah. Padahal, banyak sekali sudut pulau yang luas itu yang hanya bisa dijangkau dengan transportasi udara.
Juga, di situlah tantangan terbesar bagi KPU daerah setempat. Termasuk menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada 27 Juni mendatang. Pada 27 Juni itu, bakal dihelat pemilihan gubernur dan pemilihan bupati/wali kota di 29 daerah.



