SUKABUMI – Pengamat politik Kota Sukabumi Asep Deni mengatakan, kampanye hitam atau black campaign pada momentum pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2024 kerap dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab di berbagai platform media sosial (Medsos). Hal ini untuk menjatuhkan lawan politiknya.
Namun, perilaku yang jelas dilarang dalam pemilihan umum, Ia menilai bahwa perilaku kampanye hitam sudah tak zaman lagi digunakan.
Menurutnya, para pasangan calon (paslon) Walikota – Wakil Walikota Sukabumi pada Pilkada Sukabumi, melakukan berbedah dan menaikan elektabilitasnya di sisa waktu yang ada sebelum pemilihan.
“Saat ini bukan musim menyerang satu sama lain itu tidak menjadi menarik, sekarang itu bagaimana membuat personal branding para paslon oleh timnya agar bisa menjelaskan kinerjanya dan nilai itu mudah dicerna semua lapisan masyarakat,” kata Asep Deni saat pada awak media, Rabu (40/10).
Pihaknya memaparkan, setidaknya ada 2 model kampanye yang bisa menaikan tingkat elektabilitas ketiga paslon di Pilkada Kota Sukabumi. Menurut dosen Universitas Linggabuana itu, model kampanye tersebut ialah door to door serta melalui jejaring platform media sosial.
“Generasi lama itu senangnya mereka ketemu dengan paslon, ada yang mengenalkan, sedangkan pemilih milenial dan diatasnya mereka lebih senang pada platform media sosial sebab hampir semua memiliki gadget,” ucap Deni.
Dari model kampanye dari rumah ke rumah atau door to door, Asep deni menilai bahwa para paslon harus memiliki pegangan tokoh di daerah agar bisa mengkapitalisasi suara.






