SUKABUMI – SMP Negeri (SMPN) 16 Kota Sukabumi sukses menggelar acara tahunan Pekan Olahraga, Seni dan Sains yang Sportif (Posesif). Setelah sebelumnya sempat vakum akibat pandemi Covid-19 selama dua tahun. Kini acara pentas seni tersebut kembali digelar.
Uniknya pada acara Posesif Present SMPN 16 Kota Sukabumi kali ini diselenggarakan bersama kegiatan penutupan P5.
Adapun kegiatan tersebut dibuka secara langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Sukabumi Punjul Saepul Hayat, didampingi Kepala Bidang (Kabid) Pendas Disdikbud Kota Sukabumi Martin Wahyudi, Ketua Komite SMPN 16 Kota Sukabumi, Kapolsek Warudoyong, Camat Warudoyong dan seluruh kepala SD se-Kecamatan Warudoyong.
Kepala SMPN 16 Kota Sukabumi Cucu Rochmatiningsih mengatakan, Posesif Present merupakan agenda rutin yang digelar SMPN 16 Kota Sukabumi setiap tahunnya sebagai wujud nyata kepedulian sekolah untuk mengembangkan bakat seni, olahraga dan sains siswa-siswi SMPN 16 kota Sukabumi.
“Untuk Posesif Present tahun ini memang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana untuk tahun ini pelaksanaan Posesif Present diadakan di semester ganjil tetapi kali ini kita laksanakan di semester genap karena untuk kegiatannya kita satukan dengan kegiatan P5,” ujar Kepala SMPN 16 Kota Sukabumi, Cucu Rochmatiningsih kepada Radar Sukabumi, Senin (22/1).
Posesif tahun ini bertema Bhineka Tunggal Ika atau kebhinekaan global. Karena kebetulan posesif yang diadakan sekarang itu disatukan dua program, jadi antara program posesif dengan kegiatan P5 yang memang harus diimplementasikan oleh sekolah yang dijalanjan Kurikulum Merdeka.
“Sehingga untuk kelas 7 itu acara penutupan P5 dan untuk kelas 8 dan 9 pembukaan Posesif,” terangnya.
Dalam pelaksanaannya, para guru dan juga siswa kompak menggunakan pakaian adat dari masing-masing wilayah di Indonesia. Ini sesuai dengan tema yang diambil pada kegiatan Posesif Present SMPN 16 tahun ini.
Cucu menambahkan, selain itu juga untuk memperkenalkan SMPN 16 Kota Sukabumi kepada siswa-siswi SD. Salah satunya dengan menyelenggarakan lomba-lomba yang diikuti siswa-siswi SD negeri dan swasta se-Kecamatan Warudoyong.
Diakuinya, saat ini SMPN 16 memiliki krisis siswa baru, dimana pada tahun ini jumlah siswa yang mendaftar tidak memenuhi kuota.
“Jadi ini juga salah satu usaha untuk mengembalikan masa kejayaan SMPN 16, sebelum pandemi kita menerima murrid baru itu di 700 lebih tetapi akhir-akhir ini kita akui kekurangan murid karena banyak siswa yang pindah ke sekolah yang ada kota, katakanlah sekolah favorit dalam artian tanda kutip.
Nah, kita mencoba dengan kegiatan ini mari kita berdayakan sekolah yang ada di wilayah Wardoyong untuk menjadi sekolah pilihan seperti sekolah yang ada di kota,” imbuhnya.
Cucu berharap, melalui kegiatan ini siswa bukan hanya melaksanakan kegiatan P5 dengan mengenakaian pakaian adat tetapi mereka bisa memahami Bhineka Tunggal Ika ini banyak sekali perbedaan dan kebudayaan yang berbeda.
“Kita harus menghargai supaya tidak ada lagi perbedaan satu dengan yang lain tetapi semua semua sama, kita menyebarkan toleransi dengan siapapun, di manapun dan bagaimana pun kondisi fisik ataupun mental manusia yang ada di sekitar kita,” paparnya.
Sementara itu, Kadisdikbud Kota Sukabumi Punjul Syaeful Hayat sangat mengapresiasi kegiatan Posesif SMPN 16 Kota Sukabumi.
“Ini kegiatan yang positif dan luar biasa mudah-mudahan ini menjadi sebuah media promosi khususnya SMPN 16 Kota Sukabumi untuk menarik siswa baru,” ucapnya.
Menurutnya, SMPN 16 Kota Sukabumi juga memiliki sederet prestasi yang membanggakan. Terbukti sekolah yang berada di kawasan Cemerlang Kecamatan Warudoyong ini pernah menyandang Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional dan juga Sekolah Sehat.
Bahkan prestasi lainnya seperti dibidang olahraga, seni dan juga sains. Untuk itu ia pun menghimbau kepada orang tua taupun siswa yang nantinya akan melanjutkan SMP, agar tidak melulu sekolah harus di kota atau “sekolah favorit’ lantaran pada dasarnya semua sekolah sama karena memiliki kurikulum yang sama.
“Intinya ayo kita berdayakan sekolah yang ada yang memang dekat dengan lingkungan mau kota atau pinggiran kota itu semua sama, tidak ada istilah sekolah favorit karena semuanya sekolah juga menggunakan kurikulum yang sama,” tegasnya.






