Kami memanfaatkan filter isi ulang air galon untuk tempat mencampur air, sampah alumunium, dan soda api,” ujar siswi jurusan rekayasa perangkat lunak ini sembari mengatakan kompor pertamanya dibuat dengan budget Rp 200 ribu.
“Lewat tawar-menawar juga. Karena kami masih siswa kan tentu ingin dapat harga yang murah,” ujarnya terkekeh.
Ia mengklaim kompor buatannya lebih efisien dibanding penggunaan gas elpiji melon. Sebab, menggunakan air.
Satu botol air mineral air ukuran 600 ml, dicampur dua kaleng aluminium (kaleng minuman seperti Fanta dan Sprite) dan 500 gram soda api sudah bisa digunakan untuk menyalakan kompor.
“Dengan dana lebih murah bisa digunakan lebih lama. Apinya tergantung dengan campurannya. Semakin banyak, tekanannya semakin besar, dan apinya juga lebih besar,” jelasnya saat mengikuti kompetisi di kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), belum lama ini.
Kompor buatannya ini, bahkan sempat menjuarai beberapa perlombaan. Sempat ia menjadi juara pertama di kompetisi yang diadakan Udinus Semarang, yakni Crenovation tahun lalu.



