Santri MA Persis 68 Warudoyong Pelajari Rukyatul Hilal

Madrasah Aliyah Pesantren Persis 68 Warudoyong
Sejumlah santri Madrasah Aliyah Pesantren Persis 68 Warudoyong, saat hendak mengikuti praktik Rukyatul Hilal yang akan dilaksanakan di Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas Pelabuhanratu Kabupaten Sukabumi, Minggu (9/1).

SUKABUMI — Sejumlah santri Madrasah Aliyah (MA) Persis 68 Warudoyongu, Kota Sukabumi, mengikuti praktik Rukyatul Hilal yang diselenggarakan di Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, belum lama ini.

Salah seorang pengajar Ilmu Falak di MA Persis 68 Warudoyong, Asep Deni Muttaqin mengatakan, sebelum melakukan praktek Rukyatul Hilal langsung kelapangan, para santri dari jauh hari sudah dibekali latihan dengan bahan materi seperti, metode kemunculan hilal, berbagai kriteria yang digunakan, hisab ijtima akhir bulan, waktu matahari terbenam, ketinggian hilal, elongasi matahari maupun hilal, termasuk perhitungan posisi dan kecerlangan hilal.

Bacaan Lainnya

“Alhamdulillah, setelah para santri melakukan praktik kalibrasi arah kiblat masjid atau mushola dan lapangan salat Iedain di Wilayah Kota Sukabumi, praktek berikutnya Rukyatul Hilal yang akan dilaksanakan pada tanggal 29 Jumadil Awal 1443 H, yaitu kegiatan kemunculan Hilal awal bulan Jumadil Akhir 1443 H,” kata Asep kepada wartawan, belum lama ini.

Menurut Asep, penentuan awal Hijriyah merupakan suatu persoalan yang sangat penting dalam Islam karena hal ini menyangkut pelaksanaan ibadah, khususnya pada Ramadhan.

“Terkait dengan penentuan kapan memulai dan mengakhiri ibadah puasa, serta Syawal. Sehingga melalui praktek Rukyatul Hilal santri diajarkan bagaimana proses dan mekanisme terjadinya kemunculan hilal itu sebagai penanda awal baru Hijriyah,” ujarnya.

Lanjut Asep, Rukyatul Hilal bermakna pengamatan hilal awal bulan baru atau observasi bulan merupakan kegiatan yang sudah dilakukan umat Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga saat ini.

Dalam waktu yang relatif panjang tersebut, umat Islam menetapkan awal Hijriyah dengan berdasarkan pada pengamatan hilal. “Apabila Rukyah tidak berhasil dilihat, baik karena hilal belum bisa dilihat atau karena mendung maka penentuan awal bulan tersebut harus berdasarkan istiqmal disempurnakan 30 hari,” paparnya.

Asep mengulas, pelaksanaan Rukyatul Hilal pada masa kini pada umumnya mengunakan hasil data hisab posisi hilal di langit dan memperkecil kesalahan melihat hilal.

Pengunaan program astronomi yang koordinat tempat dan waktunya telah disesuaikan dengan pengamatan, mengunakan kompas, busur derajat, gawang lokasi, binokular bahkan teleskop atau teropong bintang terbukti sangat membantu dalam pelaksanaan rukyatul hilal.

“Perekaman hilal dengan foto lewat kamera teleskop dapat dijadikan bukti otentik bahwa hilal dapat teramati.

Kami harap, kegiatan Rukyatul Hilal yang merupakan sejarah pertama sejak berdirinya Madrasah Aliyah tahun 1989, menjadi agenda tahunan yang bisa dilakukan santri kelas 12 khususnya, sebagai puncak pembelajaran ilmu falak di pesantren ini,” pungkasnya. (bam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan