“Saat ini manusia Indonesia terutama generasi muda tidak paham tentang kebudayaan karena tidak dibentuk sejak dini. Pendidikan punya peran penting. Mestinya kebudayaan berkaitan dengan nilai-nilai identitas bangsa masa lalu, masa kini dan masa depan,” beber Fahmi.
Dijelaskan, ada teori trikon dari Ki Hajar Dewantara yang relevan. Pertama, konvergen bahwa kebudayaan siap berubah. Kedua, konsentrik bahwa kebudayaan tetap tidak kehilangan identitas yang ada. Ketiga, kontinue bahwa kebudayaan tidak terputus dan terus terjadi.
“Nenek moyang kita mampu memfilter budaya asing. Budaya India yang masuk tidak sama persis dengan asalnya. Begitu juga budaya Arab/Islam tetap menunjukkan keindonesiaan.
Generasi muda sekarang tidak punya itu. Budaya asing tetap ditelan mentah mentah tanpa filter. Hasilnya budaya barat, Korea, Jepang tetap seperti dari asalnya,” tuturnya.
Untuk mengatasi itu, menurut Fahmi, peran terpenting ada di pundak pendidikan. Penguatan pendidikan yang berbasis kebudayaan justru sangat penting. Selama ini pendidikan masih belum menyentuh aspek kebudayaan tapi masih dominan kognitif.
“Kebudayaan dalam kurikulum pendidikan perlu. Selain mengenal budaya sebagai produk ( seni, tradisi) juga perlu budaya sebagai gagasan dan perilaku yang berbasis nilai identitas bangsa,” pungkasnya.
(esy/jpnn)



