“Saya sering bertukar pikiran dan berdiskusi dengan kepala sekolah SMK yang juga masih muda. Kami saling mendukung, sehingga saya tidak pernah merasa berat atau sendiri dalam menjalankan tugas keseharian,” katanya.
Anggi, yang berdomisili di Kampung Sudajaya Girang, Desa Sukajaya, tidak pernah merasa terbebani dengan tanggung jawab yang diembannya. Menurutnya, kunci untuk menjalani peran sebagai kepala sekolah adalah kerjasama dan dukungan dari tim.
“Saya enjoy saja menjalankan amanah ini, karena di sini juga kepala sekolah SMK masih muda. Kami sering bertukar pikiran, saling berdiskusi, sehingga saya tidak pernah merasa berat atau merasa sendiri dalam menjalankan tugas,” ungkap Anggi.
Sebelum menjabat sebagai kepala sekolah, Anggi memiliki pengalaman mengajar selama empat tahun di MA Nurul Iman, di mana ia dipercaya memegang operasional sekolah. Pengalaman ini sangat membantunya dalam menjalankan tugas administrasi di SMP Taman Siswa.
“Pengalaman saya di MA Nurul Iman tidak jauh berbeda dengan tugas-tugas yang saya emban di sini, khususnya dalam hal administrasi. Ini membuat saya lebih percaya diri dalam menjalankan tugas di SMP Taman Siswa,” jelasnya.
Meskipun demikian, Anggi tidak dapat menutupi perasaan canggung yang ia rasakan ketika pertama kali menjabat sebagai kepala sekolah. Terlebih lagi, Anggi merupakan alumni SMK Taman Siswa, sehingga ia harus memimpin guru-guru yang dulunya adalah pengajarnya.
“Kalau canggung pasti ada, terutama karena guru-guru di sini sudah senior. Namun, saya selalu menerapkan sistem sharing dan diskusi dengan para guru. Meskipun saya lebih muda, saya tetap menghormati mereka sebagai guru,” tutur Anggi.
Penunjukan Anggi sebagai kepala sekolah tidak datang begitu saja. Ia dikenalkan kepada Pimpinan Yayasan Taman Siswa, Ki Sukarno, oleh kepala sekolah sebelumnya yang harus meninggalkan posisinya karena pekerjaan lain. Meskipun sempat merasa ragu, Anggi akhirnya menerima tawaran tersebut dengan niat yang tulus untuk memberikan yang terbaik bagi sekolah dan siswanya.






