Metode belajar bersama memang diyakini dapat meningkatkan interaksi sosial, komunikasi, dan kepemimpinan siswa. Tetapi tanpa evaluasi berkelanjutan, program bisa terjebak dalam rutinitas tanpa inovasi. Apalagi, tantangan pendidikan agama saat ini bukan hanya soal hafalan, melainkan juga bagaimana membentuk karakter Qur’ani yang relevan dengan realitas sosial modern.
Tahfidz Fathiyyah Zahra Abdul Karim hadir sebagai solusi alternatif pendidikan Islam di Sukabumi. Namun, publik menunggu bukti nyata: apakah janji mencetak generasi Qur’ani unggul benar-benar terwujud, atau sekadar retorika yang berhenti di ruang kelas.(*)






