JAKARTA, RADARSUKABUMI.com – Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian melakukan kerja sama dengan kementerian dan lembaga (K/L) terkait dan sembilan Pemerintah Daerah (Pemda) melakukan pilot project revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Balai Latihan Kerja (BLK).Pilot project tersebut sudah dimulai sejak tahun ajaran baru, Juli 2019, dan mencakup 17 kompetensi pada 6 sektor, yaitu agribisnis, pariwisata, manufaktur, pertambangan, seni dan industri kreatif, kemaritiman, serta diikuti 17 SMK dan 1 BLK.
Program tersebut juga merupakan implementasi dari Peta Jalan (Roadmap) Kebijakan Pengembangan Vokasi di Indonesia 2019-2025. Salah satu dari 17 kompetensi tersebut, kompetensi kopi dan sawit.Yakni melalui pilot project revitalisasi SMK Perkebunan Kopi pada SMK PPN Tanjung Sari Sumedang-Jawa Barat dan SMK Perkebunan Sawit di SMKN 2 Tanah Grogot-Kalimantan Timur.
Upaya Kemenko Perekonomian membenahi kurikulum SMK Perkebunan, salah satunya dengan melibatkan pihak industri. Hal itu tak lepas dari kenyataan saat ini bahwa pengangguran di Indonesia justru didominasi oleh lulusan SMK (BPS, 2019).
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan dan Daya Saing Koperasi dan UKM Rudy Salahuddin mengatakan, peran industri memang sangat penting dalam program Revitalisasi SMK/BLK. Yakni mulai dari penyusunan kurikulum, Training of Trainer (ToT), sertifikasi kompetensi, sampai kepada pemenuhan sarana-prasarana.“Padahal, lulusan SMK harusnya menjadi yang paling siap untuk diserap oleh dunia kerja. Maka itu, Kemenko Perekonomian mencoba membenahi pendidikan SMK yang ada sekarang. Hal itu agar sesuai dengan kebutuhan pasar dan industri,” ujar Rudy, di Jakarta, Selasa (27/8).
Untuk mendorong peran industri yang lebih besar lagi, lanjut Rudy, pemerintah memberi insentif bagi industri yang terlibat dalam usaha pengembangan SMK. Hal tersebut, ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 45 Tahun 2019 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan.Dalam aturan tersebut, pemerintah memberikan potongan sebesar 200 persen dari biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk vokasi. “Ini menjadi pengurang biaya dalam laporan laba/rugi perusahaan,” jelasnya.
Selama sekitar dua bulan ini, kata dia, Kemenko Perekonomian bersama mitra industri, ahli perkebunan kelapa, kopi serta sawit, dan juga SMK terpilih telah menyusun rancangan kurikulum dan kompetensi keahlian baru.Program revitalisasi SMK Perkebunan juga disambut baik Korean Tobacco & Ginseng (KT&G) yang berkomitmen memberikan pelatihan kopi berkualitas kepada para guru dan siswa SMK Perkebunan Kopi.
KT&G akan mendukung pembuatan kurikulum di bidang kopi, serta menyediakan sebuah Coffee Lab di Jakarta. Komitmen tersebut diwujudkan dalam Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani oleh Chief of Sustainability Management KT&G Korea Lee Sang-Hak dan Komisaris PT Revitalisasi Kota Tua Saefudin.
(dai)




