Sementara itu, tim kedua yang diketuai Muhammad Akbar Suryana mengangkat tema “Optimalisasi Penurunan Nomophobia pada Penggunaan Smartphone Generasi Z melalui Acceptance and Commitment Therapy dengan Stimulus Musik Tarawangsa”.
Akbar menjelaskan, penelitian tersebut dilatarbelakangi tingginya ketergantungan Generasi Z terhadap smartphone yang berpotensi menimbulkan nomophobia atau rasa cemas ketika jauh dari ponsel.
“Tema ini dipilih karena Generasi Z memiliki keterikatan yang tinggi terhadap smartphone sehingga risiko munculnya nomophobia menjadi sangat relevan untuk diteliti,” katanya.
Dalam penelitian tersebut, tim mengombinasikan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dengan stimulus musik tradisional Tarawangsa Sunda untuk membantu menurunkan tingkat kecemasan akibat ketergantungan smartphone.
“ACT membantu pengelolaan emosi dan fleksibilitas psikologis, sedangkan musik Tarawangsa memberikan efek relaksatif. Kombinasi keduanya diharapkan lebih efektif,” jelasnya.
Meski menghadapi sejumlah kendala dalam penyusunan proposal, terutama terkait penyesuaian anggaran dan penyusunan justifikasi biaya, tim tetap mampu menyelesaikan proposal secara kolaboratif hingga akhirnya lolos pendanaan nasional.(wdy)






