Dari catatan yang diperoleh kecamatan yang tidak mengirimkan perwakilan adalah Cikole, Cibeureum, dan Warudoyong. Padahal di daerah tersebut terdapat sejumlah kampus dan sekolah unggulan.
Kondisi tersebut lanjut Dzaki, disebabkan jarangnya ajang perlombaan karya tulis ilmiah di Kota Sukabumi. Akibatnya, para pelajar dan mahasiswa tidak terbiasa dengan perlombaan semacam itu. Seharusnya, Pemkot Sukabumi memberikan perhatian khusus dalam penyelenggaran lomba karya tulis ilimiah.
Dzaki mengungkapkan, pelatihan mengenai metode penulisan ilmiah juga harus ditingkatkan di kalangan pelajar dan mahasiswa. Langkah ini dilakukan agar semakin banyak pelajar yang paham bagaimana menulis yang benar dan baik.
Di sisi lain Dzaki menerangkan, dalam ajang MMQ tahun ini para peserta diberikan satu tema mengenai konsepsi Alquran tentang Revolusi Mental. Mereka diberikan waktu selama empat jam untuk menulis karya ilmiah tersebut menggunakan laptop.
Sebelumnya pelaksanaan MTQ tingkat Kota Sukabumi ke-38 resmi digelar mulai Senin (18/12). Istimewanya kegiatan tersebut baru kali ini dilakukan berbasis wilayah yakni digilir per kecamatan.
MTQ ke-38 ini baru pertama kali dalam sejarah di Sukabumi dilaksanakan berbasis wilayah, ujar Wakil Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi ketika membuka acara MTQ di Kampus Politeknik Sukabumi.
Sesuai kesepakatan lanjut dia penyelenggara terbaik dalam MTQ tingkat kecamatan akan menjadi penyelenggara MTQ di tingkat kota. (*)



