PENDIDIKAN

Belajar Daring Masih Bingungkan Ortu

×

Belajar Daring Masih Bingungkan Ortu

Sebarkan artikel ini
Seorang siswa SD sedang belajar dari rumah selama pandemi Covid-19.

SUKABUMI – Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia untuk kembali menunda masuk sekolah di tahun ajaran 2020/2021, serta kembali memperpanjang waktu belajar jarak jauh bagi semua jenjang pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) hingga SMA sampai akhir tahun menuai pro dan kontra di kalangan orang tua (Ortu) siswa.

Bagi sebagian ortu, hal tersebut tidak masalah. Lantaran beban tugas dari sekolah untuk anak-anaknya pun berkurang, dan anak-anak akan lebih aman jika berada di rumah. Namun, sebagian ortu lainnya justru merasa berat jika terus menerus mengajari anaknya di rumah terutama bagi ortu yang baru mendaftarkan anaknya masuk SD.

Bank bjb Tandamata

Seperti yang diungkapkan Ririn Ristiniawati (28). Ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi itu mengaku masih bingung ,dengan cara pembelajaran daring yang nantinya akan diterapkan pada saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) disaat pandemi Covid-19 ini. Apalagi belajar jarak jauh tersebut akan diperpanjang hingga akhir 2020.

Meski begitu, ibu satu anak ini setuju jika belajar di rumah tetap dilaksanakan di tengah wabah Covid-19. Namun ia berharap, pemerintah bisa memberikan skenario yang jelas cara KBM di rumah, terutama bagi siswa-siswi yang baru masuk SD.

“Sangat setuju, karena bahaya juga kalau sekolah dibuka takutnya kan ada yang tertular ya, tetapi masih bingung juga bagi yang baru masuk SD apakah efektif bila terus -terusan belajar di rumah,” ucapnya.

Menurutnya mindset anak-anak yang baru masuk sekolah akan berbeda dengan siswa yang naik kelas. Jika normalnya, siswa baru saat masuk sekolah akan lebih banyak dikenalkan dengan lingkungan teman dan sekolahnya, lalu bagaimana saat belajar daring ini apakah siswa sudah siap ketika harus di hadapkan langsung pembelajaran seperti biasa.

Selain itu, ia juga khawatir tidak adanya interaksi antara siswa dengan siswa lainnya atau siswa dengan guru. Padahal Interaksi tersebut penting untuk melatih mereka bersosialisasi.

“Tentu beda, yang saya khawatirkan nanti apakah anak ini nanti siap jika harus belajar, dan setelah pandemi ini beres dan sekolah kembali dibuka apakah anak-anak ini juga akan nyaman di lingkungan baru,” ucapnya yang berharap pemerintah bisa memberikan skenario yang tepat tentang KBM secara daring.

Berbeda dengan Ririn, salah satu orang tua lainnya, Mira mengaku tidak setuju jika masa belajar siswa di rumah diperpanjang hingga akhir tahun. Sebab, hal itu kurang efektif untuk kegiatan belajar siswa.

“Belajar dari rumah secara online faktanya banyak kendala teknis saat pelaksanaan. Hal itu mengakibatkan anak tidak bisa belajar dengan maksimal. Mungkin satu hingga dua hari bisa berjalan baik, tetapi jika hitungannya pekan bahkan bulan, bisa menurunkan semangat dia belajar. Intinya saya kurang setuju,” tegasnya.

Mira menilai, saat belajar di rumah antara waktu belajar dengan aktivitas nonbelajar, lebih banyak waktu aktivitas nonbelajarnya.

Karena hanya mengerjakan tugas dari guru. Beberapa pekan belajar di rumah pun membuat anak bosan, ingin segera masuk sekolah. Dalam kondisi psikologi yang kurang bagus, belajar anak juga terpengaruh.

Dia menambahkan, saat anak belajar dari rumah kontrol dan pengawasan dari ortu kurang. Hal itu karena ortu juga disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.

“Saya lebih sepakat jika siswa bisa belajar di sekolah asal ikuti sesuai aturan WHO seperti menggunakan physical distancing, menggunakan masker dan rajin cuci tangan atau bila perlu menggunakan APD saat berada di sekolah, jika ada anak yang sakit demam atau batuk flu mungkin ortu tidak mengizinkan anaknya untuk sekolah dulu, intinya sih lebih kesadaran kita sendiri aja dulu,” imbuhnya.

Mira juga menambahkan, belajar di rumah dalam waktu yang lama bisa menurunkan kualitas pendidikan. Hal itu karena proses belajar siswa tak optimal lantaran sekadar mengerjakan tugas dari guru tanpa ada pengayaan.

Saat ini, Mira sendiri memiliki dua anak yang masih sekolah. Pertama siswa kelas IV SD dan kedua kelas 1 SD. Dirinya mengaku kewalahan ketika harus menemani anak-anaknya belajar, sebab selain disibukan dengan pekerjaan rumah, ia juga memiliki dua anak lagi yang masih balita.

Ia berharap program belajar dari rumah tidak berlanjut hingga akhir tahun 2020. Menurutnya, hal itu kurang efektif untuk kegiatan belajar siswa.

“Semoga tidak sampai akhir tahun, karena sebetulnya belajar dari rumah itu kurang efektif. Memang betul ada tugas, tetapi saya kira kalau tidak ada interaksi dengan guru jadi kurang efektif kegiatan belajarnya,” pungkasnya. (wdy)