Waspada, Cuaca Buruk Sampai 26 Februari

Hujan (ilustrasi)

JAKARTA –  Kondisi cuaca ekstrim berupa hujan lebat bakal terus terjadi. Kemarin (24/2), BMKG menyatakan bahwa sebagian besar wilayah Jawa memasuki kategori siaga cuaca ekstrim. Peringatan ini berlaku hingga tanggal 26 Februari 2020.

Dampak hujan lebat dalam kategori Siaga dialami oleh beberapa wilayah. Mulai dari Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Di Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah serta Sulawesi Selatan.

Bacaan Lainnya

Hal ini diperparah dengan kehadiran siklon tropis (TC) Ferdinand di perairan Barat Laut Australia tepatnya di Samudera Hindia selatan kepulauan Nusa Tenggara dengan kecepatan angin maksimum 45 knot. Selain itu, ada siklon tropis lain yakni TC Esther di teluk Carpentaria Australia dengan kecepatan angin maksimum 30 knot.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo mengungkapkan kondisi ini bakal meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Jawa bagian Timur, Bali, Kepulauan Nusa Tenggara hingga  Laut Arafuru dan Papua. “Selain itu, gelombang laut di perairan selatan Jawa Bali dan Nusa Tenggara bisa meningkat mulai 1,25, 1,5 hingga 4 meter,” jelas Prabowo kemarin.

Sementara itu, ancaman banjir belum juga mereda. Sejak sabtu (22/2), banjir dengan tinggi muka air (TMA) sekitar 30 sentimeter masih menggenangi permukiman warga di wilayah RW 20 di Jalan Nusa Indah perumahan Harapan Indah, Kota Bekasi, berlanjut hingga kemarin (24/2).

Kapusdatinkom BNPB Agus Wibowo menyatakan, banjir dipicu oleh faktor intensitas hujan tinggi sejak Sabtu (22/2) pukul 23.00 WIB hingga Minggu (23/2) pukul 07.00 WIB dan ditambah buruknya drainase itu telah merendam lima RW yakni RW 16, RW 17, RW 18, RW 19 dan RW 20 dengan TMA sekitar 150 sentimeter.

Berdasarkan data lapangan yang diambil dan diolah tim Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatinkom) Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB), kondisi perubahan ketinggian TMA tersebut sekaligus mengindikasikan bahwa banjir sudah berangsur surut, namun prosesnya tergolong lama.

“Selain buruknya sistem drainase, proses lambatnya penyurutan genangan air di lima RW tersebut juga disebabkan oleh kondisi topografi yang merupakan daerah cekungan sehingga mengakibatkan genangan air tidak dapat keluar atau mengalir melalui saluran pembuangan,” jelasnya.

Di samping itu, lanjut Agus, berdasarkan kajian dan pantauan tim lapangan dari udara menggunakan drone di RW 18, tembok pembatas setinggi sekitar 5 meter berdiri di antara Harapan Indah I (Nusa Indah) dengan Harapan Indah II (Garden Indah) dan terdapat sumbatan saluran air yang terletak dibawah tembok pembatas.

Agus menambahkan, masyarakat harus senantiasa waspada dan mempersiapkan diri untuk memitigasi potensi yang diakibatkan dari cuaca buruk sesuai dengan peringatan BMKG.(tau)


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *