Menurut dia, saat ini merupakan momen bagi Garuda Indonesia untuk bersih-bersih dari permasalahan keuangan dan kinerja operasional. Juga, menata kembali fundamental bisnisnya. ’’Setiap prosesnya akan saya kawal penuh,” tegasnya.
Di sisi lain, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra P.G. Talattov menilai, pengunduran diri komisaris dan pemangkasan jumlah direksi sangat wajar dan memang semestinya dilakukan oleh Garuda Indonesia. Keputusan itu menjadi sinyal bahwa perusahaan penerbangan pelat merah tersebut sudah menunjukkan sense of crisis. ’’Tentu nasib Garuda masih jauh dari kepastian. Sekarang ini yang paling penting buat Garuda bagaimana bisa survive, masih bisa tetap hidup,” terang Abra kepada Jawa Pos tadi malam.
Abra juga menilai perlunya audit terkait leasing pesawat Garuda Indonesia. Menilik rasio sewa pesawat terhadap pendapatan perusahaan mencapai 24,7 persen. Angka tersebut terbesar di seluruh maskapai di dunia. ”Ini perlu transparansi dari manajemen terhadap publik. Sejauh mana jumlah pesawat yang sudah dikembalikan sepanjang satu semester ini?” imbuhnya.
Sementara itu, Yenny mengungkapkan, pada awalnya dirinya agak setengah segan untuk masuk ke Garuda Indonesia. Namun, begitu bergabung, putri kedua mantan Presiden Abdurrahman Wahid itu malah jatuh cinta. ’’Meski masalahnya seabrek,” katanya.






