“Dia (almarhumah) itu sebenarnya masih duduk di kelas enam SD, seharusnya sudah SMP kelas satu. Tapi putus sekolahnya,” terangnya.
Ditanya apa penyebab putrinya sampai bisa putus sekolah, Ahmad tidak mampu menjawab panjang. Faktor ekonomi dan pekerjaannya yang membuat seperti itu.
“Saya tahu, pasti banyak orang yang menyalahkan saya. Tapi kondisi ekonomi, pekerjaan dan keluarga yang membuat seperti ini. Saya salah, tapi orang tidak tahu bagaimana kehidupan kami,” ujarnya sedih.
Sejak berpisah dengan istrinya, Ahmad bekerja seorang diri. Dia yang mengurusi semua kebutuhan anak-anaknya, ditambah lagi dengan orangtuanya yang ikut dengannya.
“Maaf kata, saya ibu dan ayah bagi anak-anak saya. Saya yang mengurusi mereka, ditambah lagi nenek mereka. Jadi waktu saya untuk bisa menjaga dan memerhatikan mereka sangat terbatas,” sebutnya yang sudah harus berangkat kerja pukul 06.00 WIB dan pulang pukul 21.00 WIB.
Mirisnya, anak-anak yang ditinggalkannya sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah sehari-hari. Termasuk HAS, putri keempatnya yang diakuinya kurang kasih sayang dan sosok seorang ibu. Itu dilakoninya, selama 10 tahun sejak berpisah dengan mantan istrinya.
“Saya akui, anak-anak saya kurang kasih sayang orang tua, khususnya sosok ibu. Apalagi saya, yang harus bekerja untuk mereka. Jarang untuk bisa selalu bersama-sama, termasuk almarhumah,” terangnya yang mengaku saat pergi mencari nafkah, anak-anak yang ditinggalkannya masih dalam keadaan tidur, dan saat pulang juga sudah kembali tidur.
Sebelum putrinya meninggal, Ahmad merasakan syok yang luar biasa. Selama satu pekan, HAS tak kunjung pulang ke rumah. Dan mendapat kabar, putrinya sedang dalam keadaan sakit dan berada di rumah temannya di Pasar Lama, Batang Angkola.
“Orang tua temannya datang ke mari dan memberitahukan kalau anak saya di rumah mereka dan dalam keadaan sakit,” ceritanya merunut kronologi kepergian putrinya.
Bersama anaknya (kakak HAS), mereka pun pergi melihatnya. HAS ditemukan dalam kondisi sakit, namun terlihat tidak ada luka.
“Pengakuannya pertama karena jatuh dari sepeda motor, tapi saya curiga karena tidak ada luka-luka. Dan setelah dibujuk-bujuk, akhirnya dia mau menceritakannya,” ucap Ahmad dan mengingat putrinya masih sempat menangis mengeluh sakit di bagian dada serta kepalanya.
Yang lebih sakit lagi, seperti disambar petir di siang bolong, Ahmad mendapat keterangan kalau putrinya sedang dalam keadaan mengandung. Dia tidak percaya, namun itu dibenarkan putrinya.





