NASIONAL

Sosok Mbah Sireb yang Sempat Dijuluki ‘Srikandi Edan’ Pemain Ludruk dan Sinden yang Bersuara Merdu

×

Sosok Mbah Sireb yang Sempat Dijuluki ‘Srikandi Edan’ Pemain Ludruk dan Sinden yang Bersuara Merdu

Sebarkan artikel ini

Sayangnya, pernikahan Suwarti dan Sukirman juga tak bertahan lama. Pasalnya Sukirman meninggal dunia terlebih dulu. Hingga akhirnya Suwarti memilih untuk menikah lagi dengan seorang laki-laki bernama Giman yang sudah memiliki seorang anak bernama Sukarno.

Pada mulanya, kata Mudjiadi, hubungan antara Suwarti dan Sukarno berjalan baik. Bahkan Suwarti sudah menganggap anak tirinya itu seperti anak kandung sendiri. “Tapi memang sejak kecil Sukarno sudah dikenal bandel dan suka mencuri. Makanya Sukarno sempat mendapat julukan kancil,” lanjut lelaki yang juga pernah menjadi anggota TNI tersebut.

Bank bjb Tandamata

Pernah pada suatu saat, Suwarti meminta tolong kepada Sukarno untuk berbelanja sayur di pasar. Namun justru uang belanja tersebut diambil oleh Sukarno dan tidak dibelanjakan. Bahkan, Sukarno juga pernah nekat mencuri sepeda hingga sempat diamankan oleh pihak kepolisian.

Puncak kenakalan Sukarno itu terjadi pada Kamis (1/2) lalu. Saat itu Sukarno baru saja pulang dari luar kota dan tiba-tiba meminta jatah warisan kepada Suwarti. Cekcok pun tak bisa dihindari hingga akhirnya pada dini hari Sukarno menganiaya Suwarti yang sudah renta tersebut.

Diketahui, saat itu Sukarno menusuk perut Suwarti dengan menggunakan senjata tajam. Akibat peristiwa tersebut Suwarti harus dilarikan ke rumah sakit dan sempat menjalani operasi. Hanya, nyawa Suwarti akhirnya tidak bisa diselamatkan dan akhirnya meninggal dunia pada Minggu (4/1) lalu.

Atik Sri Wahyuni, 48, menantu Suwarti, juga sangat terpukul dengan kematian mertuanya tersebut. Dia sempat menunggui Suwarti selama berada di rumah sakit dan mengatakan bahwa kondisi Suwarti sebenarnya sempat membaik. “Sebelum operasi masih sempat ngobrol tentang tempe penyet,” kenangnya.

Namun, pascaoperasi kondisi Suwarti semakin drop hingga akhirnya tidak bisa tertolong lagi. Suwarti mengaku sudah merelakan kepergian mertuanya tersebut. Hanya, dia masih tidak menyangka bahwa Sukarno tega melakukan perbuatan keji tersebut kepada ibu tiri yang sudah mengasuhnya. “Saya sebenarnya masih trauma. Tapi saya berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu selama ini,” pungkasnya sambil menitikkan air mata. (rk/die/die/JPR)