SOLO – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin meminta civitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), berada pada garda terdepand dalam gerakan anti hoax.
Hal ini disampaikan Menag saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional tentang “Peran PTKIN dalam Menangkal Berita Hoax, Fake News, dan Ujaran Kebencian Untuk Mewujudkan Persatuan Bangsa” di IAIN Surakarta.
“Sebagai masyarakat elit-strategis, kampus harus memainkan agen keteladanan dalam kerukunan dan persatuan bangsa badi masyarakat lainnya,” terang Menag di Solo, baru-baru ini.
Menurut Menag, hoax semestinya tidak punya preseden dalam ajaran Islam. Sebab, Islam mengajarkan umatnya selalu cermat dan tabayyun dalam menerima berita. Islam mengajarkan untuk mendahulukan husnudhan ketimbang suudhan.
“Ini bahkan diajarkan dalam ilmu mustholah hadis tentang penelusuran suatu “berita” secara ketat. Ada garis panjang sanad untuk sampai pada penemuan isi berita yang benar-benar valid,” tuturnya.
Menag mengatakan, sebelum mengirim berita, ada tiga pertanyaan yang harus dijawab. Apakah berita ini punya makna? Apakah pengirim berita sudah otoritatif atau punya otoritas? Apakah berita ini dari sisi strategis tidak memecah harmoni antar-bangsa?



