JAKARTA – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan peran penting jurnalisme di tengah derasnya arus konten berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang semakin sulit dibedakan dari peristiwa nyata.
Dalam Forum Kolaborasi Dewan Pers dan Google News Initiative di Serang, Banten, Minggu (8/2), Nezar menyampaikan bahwa perkembangan AI telah mengubah lanskap industri media massa dan pola konsumsi informasi masyarakat. Foto, video, dan teks hasil rekayasa AI kini beredar luas di platform digital dan media sosial, membuat publik rentan terkecoh.
“Konten sintetis hari ini sangat mirip dengan aslinya. Bahkan orang yang terlatih pun bisa keliru. Di situ publik membutuhkan jurnalisme yang bekerja dengan disiplin verifikasi,” ujarnya, Senin (9/2).
Nezar menekankan bahwa masalah utama era digital bukan kelangkaan informasi, melainkan krisis kepercayaan. Algoritma dan sistem personalisasi membuat publik melihat realitas yang terfragmentasi sesuai preferensi masing-masing, bukan gambaran utuh peristiwa. “Informasi hari ini melimpah, yang justru langka adalah kepercayaan. Kepercayaan itu hanya bisa dijaga oleh jurnalisme yang berintegritas,” katanya.
Ia menambahkan, AI tidak memiliki insting verifikasi karena teknologi hanya bekerja jika diperintah. “AI tidak akan melakukan verifikasi kalau tidak diminta. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme profesional dengan konten otomatis,” jelasnya.
Nezar menegaskan bahwa dalam industri media massa, AI harus ditempatkan sebagai alat bantu produksi, bukan pengambil keputusan editorial. Manusia tetap harus menjadi pusat dalam penentuan kebenaran, konteks, dan dampak informasi bagi publik.




