NASIONAL

Mustaqbilal, Difabel Pemahat Barong Otodidak Tangan Kiri Pegang Pahat, Lengan Kanan Diikat Palu

×

Mustaqbilal, Difabel Pemahat Barong Otodidak Tangan Kiri Pegang Pahat, Lengan Kanan Diikat Palu

Sebarkan artikel ini

Seiring berjalannya waktu, laki-laki yang biasa dipanggil Bilal tersebut semakin mengembangkan bakatnya memahat. Dia rajin mencari karakter dari media sosial, kemudian diterapkannya dalam bentuk karya seni pahat hingga sekarang.

Tidak hanya pandai membuat kepala Barong Oseng, Bilal juga dapat membuat beragam kepala Barong Bali, Barong Rejeng, hingga kepala Macan-macanan yang biasa digunakan dalam rangkaian seni jaranan.
Bilal mengaku, saat ini pemasaran hasil karyanya tersebut hanya di area Banyuwangi saja. Itu pun, kata dia, pemasaran hanya sesuai pemesanan. ”Saya hanya mengerjakan kepala barong sesuai pesanan. Karena saat ini pasaran barong sepi yang meminati,” ujar Bilal.

Bank bjb Tandamata

Dia baru melakukan aktivitas memahat sesuai keinginan pemesan. Selain itu, untuk membeli bahan-bahan, Bilal meminta uang muka terlebih dahulu kepada pemesan karena dia memiliki keterbatasan modal.
Bilal berharap, banyak pihak yang memberikan modal, serta membantu memasarkan karya kerajinannya itu hingga ke luar Banyuwangi.

Sementara untuk harga kepala barong berukuran kecil dipatok harga Rp 300 ribu. Sedangkan barong yang berukuran besar bisa mencapai Rp 9 juta, dan itu pun pemesannya hanya para pelaku kesenian dan kelompok kesenian di beberapa desa di Banyuwangi.

Hasil penjualan pahatan kepala barong itu digunakan Bilal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama ibunya, Suniyah. Sedangkan bapaknya, Sutaman sudah meninggal dunia.

Bilal menjelaskan, beberapa tahun silam dirinya telah memahat kayu untuk dibentuk Ogoh-ogoh, semacam kesenian adat masyarakat Bali. Ogoh-ogoh itu kini disewakan kepada masyarakat yang punya hajat seperti khitanan. Di mana anak yang bersangkutan naik ke atas punggung Ogoh-ogoh sebelum disunat untuk diarak keliling kampung.

”Dan harga sekali sewa sebesar Rp 300 ribu per hari, jika sekalian dengan tenaga pemanggulnya bisa mencapai Rp 750 ribu,” ucap bungsu dari empat bersaudara itu.
Bilal berharap bantuan dari pemerintah atau pihak lainnya untuk memberikan modal. Dia juga mengaku butuh dukungan pemasaran hasil kerajinan kepala barong, supaya seni barong lebih dikenal masyarakat.(bw/kri/als/JPR)