Mendagri : PPKM Darurat dengan Level 4 Substansi Sama Saja

  • Whatsapp
Tito Karnavian
Mendagri Tito Karnavian

Koordinator PPKM (yang sebelumnya) Darurat, Menko Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan Presiden meminta agar tidak lagi menggunakan istilah darurat atau mikro. ”Jadi PPKM level 1,2,3 dan 4. Berlaku sampai 25 Juli tahun 2021,” kata pria yang akrab disapa Opung ini.

PPKM level 4 ini kata Luhut adalah yang tertinggi (?) Paling ketat atau paling parah, luhut tidak menjelaskan secara rinci. Yang jelas ia menyebut seperti yang sedang dijalani oleh Indonesia saat ini. Khususnya Jawa-Bali.

Bacaan Lainnya

Jika pada tanggal 25 Juli nanti kasus menunjukkan tanda-tanda menurun, maka pemerintah akan mulai melakukan relaksasi. ”Apabila menunjukkan perbaikan dari semua sisi, seperti penurunan kasus. Indikator-indikator sesuai acuan WHO. Parameternya sudah ada. Sudah di brief juga apa itu level 1 2 3 dan 4,” jelasnya.

Luhut mengatakan, penerapan PPKM darurat yang sudah dilakukan beberapa lama ini sudah menghasilkan perbaikan pada aspek pergerakan masyarakat yang mengalami penurunan, juga penurunan pada kapasitas BOR Rumah Sakit, serta jumlah kasus yang turun signifikan.

“Beberapa Gubernur sudah melaporkan ada perbaikan. Contohnya seperti DKI menunjukkan perbaikan. Jabar BOR nya sudah dibawah 80 persen. 79 persen,” jelasnya.

Beberapa kabupaten, kata Luhut malah sudah menunjukkan perbaikan yang pesat turun dari level 4 ke level 2. Tapi ia menyatakan bahwa pihaknya tidak ingin buru-buru.

“Biarlah 5 hari biar (kita,Red) lebih tenang sehingga bisa lebih baik keadaannya. Karena sifat dari virus varian Delta memang kelihatan 3 sampai 2 minggu (efeknya,Red). Jadi sekarang sudah waktunya mereka mulai menurun,” katanya. Tapi kita tetap waspada, tambahnya.

Bagaimana menentukan level 1 sampai 4? Luhut tidak merinci, hanya mengatakan bahwa dasar penentuannya adalah 3 indikator utama, yakni laju transmisi, respon sistem Kesehatan, serta kondisi sosiologis masyarakat.

Hal ini agak berbeda dengan pakem yang selama ini dianut bahwa asesmen pandemi dinilai dari 3 indikator yakni epidemiologi, sistem pengawasan (surveilans), serta sistem pelayanan kesehatan.

Waktu ditanya tentang hal ini, Guru Besar FKUI dan Mantan Direktur WHO Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama hanya senyum-senyum saja.

“Karena masih akan berlaku sampai 25 Juli, maka baik ditunggu saja perkembangan angka-angkanya (perkembangan kasus,Red) dalam beberapa hari mendatang,” jelasnya pada Jawa Pos.

Luhut melanjutkan, bahwa pemerintah dalam waktu dekat akan mulai melakukan peningkatan testing dan tracing serta memperbanyak pusat-pusat isolasi utamanya di daerah padat penduduk.

”Malam ini akan kita finalkan. Bagaimana kita akan testing dan tracing di perumahan-perumahan padat penduduk. Terutama di aglomerasi. Jabodebek, Bandung, Surabaya, Solo Raya, Semarang Raya dan Malang Raya,” katanya.

Jika ada yang positif, kata Luhut, akan langsung dibawah ke tempat karantina. Sudah tersedia obat, peralatan, dan tenaga kesehatan yang merawat.

Ketimbang dirawat di rumah kata Luhut kemungkinan kondisi memburuk menjadi kecil, kemungkinan meninggal juga kecil.

Testing dan telusur masif ini kata Luhut akan dilakukan mulai 1 hingga 2 hari ke depan. Sehingga, ketika ada pelonggaran tanggal 26 nantinya, testing dan tracing berjalan dengan baik. Vaksinasi juga akan dipercepat secara paralel.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *