Menurutnya, meski naskah aslinya sudah ada, tetapi jika hanya disimpan maka akan ringkih dan sulit untuk terbaca, untuk itu, seluruh naskah tersebut akan didigitalisasi dan ditayangkan dalam platform Khasanah pusat Nusantara (Khastara), sehingga para peneliti dapat mengakses data yang ada di dalam naskah untuk dilakukan riset.
“Setelah mengetahui metadatanya, silakan dibaca melalui metadata itu. Pemanfaatan selanjutnya adalah bukan hanya mereka yang menjadi peneliti yang bisa memanfaatkan naskah ini, tetapi dari sisi Perpusnas, saya menginisiasi agar naskah-naskah tersebut diolah menjadi bahan bacaan untuk literasi,” tuturnya.
Koleksi naskah Sunda Yayasan Ngariksa didominasi tulisan beraksara Pegon dan berbahasa Sunda, sebagian kecil dalam bahasa Jawa dan Arab. Isi naskah terangkum dalam tiga kata kunci: Islam, Sunda, dan masyarakat.
Pada masanya, naskah-naskah tersebut merupakan catatan masyarakat Sunda yang kental dengan keislaman dalam konteks ritual, nasihat, sastra, dan hukum. Ada juga petunjuk tentang pemilihan waktu yang tepat (primbon) dan siklus pertanian.(*)




