Sejak kompetisi berakhir, yaitu pada pertengahan September 2017, praktis subsidi untuknya, baik berupa rumah kos maupun jatah makan, ikut terhenti. ”Kalau dari awal kompetisi lancar gajinya. Itu saya tabung.
Niatnya mau dipakai di rumah nanti. Tapi karena tidak ada pemasukan mulai Juli, akhirnya tabungan saya pakai. Pas November kemarin tabungan saya sudah habis,” ungkapnya.
Zuki akhirnya memilih meninggalkan rumah kosnya di Sraten, Cluring. Tiga orang teman satu kosnya, yaitu Bayu Kurniansyah, Rifki Aulia, dan Imam Nawawi lebih dulu angkat kaki karena mereka berasal dari Jember. Sedangkan Zuki memilih tinggal di rumah Riki Pratama di Desa Sukonatar, Srono, rekan satui tim di Persewangi.
”Sebenarnya saya malu, tapi bagaimana lagi uang sudah tidak ada. Listrik dan uang kos belum terbayar semua. Akhirnya saya tinggal dengan Riki.
Alhamdulillah, orang tuanya menerima saya, menganggap saya seperti anak. Jadi sementara tempat tinggal dan makan saya ditanggung. Tapi kalau bisa secepatnya saya ingin pulang,” harap Zuki sembari menerawang jauh.
Sejak tinggal di rumah milik Riki, Zuki memiliki keinginan untuk bisa menabung lagi. Setidaknya bisa membeli tiket kereta dan pesawat untuk kembali ke Pare-Pare.
Selain tetap berusaha menemui manajer tim Persewangi untuk bisa kembali mendapatkan haknya, Zuki juga bekerja serabutan menjadi penjemur jagung.
Bayaranya memang tidak bisa dianggap bagus, tapi baginya ini cukup untuk sekadar menyambung hidup dan mengisi tabungannya.
”Nilai kontrak saya per bulan Rp 3 juta. Kalau lancar mungkin saya sudah pulang ke Pare-Pare. Waktu bulan September lalu, saya sempat senang karena janjinya pemain paling jauh diprioritaskan gajinya, tapi ternyata tidak,” terangnya.
Ketika ditanya tentang keluarganya, Zuki mengaku sudah menjadi yatim piatu sejak kecil. Selama ini hanya kakaknya, yaitu Mariyati yang selalu menanyakan kabarnya. Zuki mengaku terpaksa berbohong untuk bisa mengulur waktu agar tidak selalu dikhawatirkan oleh kakak perempuannya itu.
”Untungnya saya belum punya istri, kalau punya tidak tahu seperti apa nasibnya. Semoga nanti ada jalan keluar kalau tidak terpaksa saya menabung sampai bisa pulang,” harapnya.(bw/fre/als/JPR)



