Makin Banyak Orang Stres dan Meninggal, Luhut: Statment Saya jangan Dipotong-potong

Luhut
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan selaku Koordinator PPKM Darurat Provinsi Jawa-Bali melakukan rapat virtual pada hari Minggu (11/72021). ANTARA/HO-Menko Marves/pri. (ANTARA/HO-Menko Marves)

JAKARTA – Koordinator Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakan (PPKM) Darurat, Luhut Binsar Pandjaitan meminta masyarakat memahami varian Delta yang masuk ke Indonesia sulit dikendalikan. Luhut juga meninta media agar tidak membuat berita yang memicu polemik sehingga membuat masyarakat semakin stres.

Utamanya pemberitaan terkait dirinya atau pernyataan yang dipotong-potong. Itu disampaikan Luhut dalam keterangan pers secara daring tentang perkembangan PPKM Darurat, di Jakarta, Kamis (15/7/2021).

Bacaan Lainnya

“Saya mohon kita semua paham, varian delta ini varian yang tidak bisa dikendalikan, jadi saya mohon kita enggak usah berpolemik membuat berita yang kontradiksi atau statemen saya dipotong-potong,” tutur Luhut.

Luhut juga meminta media agar ikut berkontribusi memberikan informasi yang baik kepada masyarakat.

“Kalau boleh saya titip temen-temen media, kita ini menyelamatkan nyawa orang. Makin banyak kita bikin berita tidak benar, maka makin stres orang, makin banyak orang meninggal,” sambungnya.

Menurutnya, pemberitaan yang tidak benar itu hanya akan membuat banyak masyarakat menjadi sakit. “Jadi, kalau Anda mmebuat berita-berita tidak benar, untuk supaya, maaf untuk anda populer, Anda cenderung membuat orang lain cedera. Ini data silahkan Anda cek,” tambahnya.

Semua Negara juga Kena

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi ini menyatakan, lonjakan kasus Covid-19 sangat tinggi dibandingkan sebelumnya semenjak diberlakukannya PPKM Darurat.

Akan tetapi, Luhut memastikan bahwa pemerintah tengah berjuang dan bertarung melawan varian baru Covid-19 yang kali pertama ditemukan di India itu. Varian Delta, kata dia, dinilai banyak ahli memiliki tingkat risiko mematikan yang sangat tinggi dibandingkan varian lainnya. “Supaya Anda tahu ini, saya dapat dari studi yang saya tahu apakah lima kali atau enam kali tergantung siapa yang meneliti,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *