Bulu kuduk terasa merinding saat pertama kali menjejakkan kaki di areal pekuburan bukit batu Lemo, Makale Utara, Tana Toraja, dua hari lalu. Patung-patung yang bersusun rapi di dinding batu persis di seberang persawahan, seakan menyapa, menatap langsung pengunjung yang datang.
KEN GIRSANG, Tana Toraja
Apalagi patung-patung itu terlihat mengenakan pakaian lengkap layaknya manusia dan tersusun secara berkelompok. Masing-masing kelompok seakan duduk di beranda rumah masing-masing. Sementara di atas tiap kelompok terdapat sebuah gua tertutup pintu berukuran sekitar 1,5 x 1 meter.
Masyarakat Toraja menyebut patung-patung kayu itu tau-tau. Dipahat sedemikian rupa, lengkap dengan simbol-simbol tertentu. Tau-tau merupakan penanda sebuah makam. Jika di ‘beranda’ depan terdapat lima tau-tau, berarti di dalam gua terdapat lima jenazah anggota satu keluarga.
Menurut informasi, tau-tau hanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan setelah memenuhi sejumlah persyaratan adat. Itulah sebabnya tidak semua gua yang terhampar di dinding bukit batu Lemo, terdapat tau-tau.
Beberapa gua bahkan terlihat terbuka tanpa pintu kayu atau bambu, sehingga pengunjung dapat melihat langsung peti-peti mati yang disusun dalam gua berukuran sekitar 3×5 meter.



