Liem Thian Joe mencatat berbagai peristiwa penting yang terjadi di Semarang. Misalnya pembangunan rel kereta api pertama di Indonesia, berdirinya berbagai kelenteng di Pecinan, lahirnya Kongkoan, hotel Tionghoa pertama, kedatangan Raja Siam (Thailand) ke Semarang, surat kabar pertama di Semarang.
Ia juga mencatat momen-momen pergerakan nasional seperti pemogokan buruh serta rapat-rapat umum menggalang perlawanan terhadap kolonial. Asal mula nama-nama kampung di Semarang tak lupa dari catatannya.
Tulisan inilah yang kemudian dibukukan menjadi Riwajat Semarang : Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapusnja Kong Koan pada 1933. Buku setebal 334 halaman yang diterbitkan Boekhandel Ho Kim Yoe di Semarang dan Batavia ini, sekarang menjadi rujukan para penulis sejarah Kota Semarang.
Pada 2004, buku Riwayat Semarang dicetak ulang dengan penyesuaian bahasa terkini oleh penerbit Hasta Wahana Jakarta.
Penulis buku The Chinese of Semarang : A Changing Minority Community in Indonesia, Donald Earl Willmott memberikan apresiasi khusus pada Liem Thian Joe.
Pada buku yang diterbitkan Cornell University Press di 1960, Willmott mempersembahkan buku tersebut untuk Liem Thian Joe, selaku sejarawan Semarang, wartawan dan kawan yang telah meletakkan fondasi masa lalu pada penelitian tersebut.
Selain Riwajat Semarang, Liem Thian Joe juga menulis Boekoe Peringetan 1907-1937 Tiong Hwa Siang Hwee Semarang pada 1937, meski namanya tidak tercantum di buku tersebut. Buku lainnya adalah Poesaka Tionghwa yang diterbitkan di Semarang pada 1952. Liem Thian Joe meninggal dunia di Semarang pada 1963.
Pemerhati Sejarah Semarang, Tri Subekso, menilai, Riwajat Semarang merupakan buku penting bila bicara tentang sejarah Semarang. “Salah satu referensi utama di antara data dan literatur tentang Semarang yang tidak banyak,” ujar lulusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.
Buku Riwajat Semarang ditulis berdasar arsip-arsip dan catatan di sekitar 1930-an, menjadikannya sumber sejarah yang sangat berharga untuk merekonstruksi sejarah Semarang. Selama ini sejarawan atau penulis kesulitan menemukan arsip Semarang, salah satunya karena peristiwa terbakarnya Gedung Papak pada sekitar 1954 yang memusnahkan arsip-arsip berharga.
“Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang sejarah Semarang, buku Riwajat Semarang bisa dipadukan dengan arsip-arsip mutakhir, juga data-data arkeologi yang pada masa itu belum ditemukan atau belum dijadikan bahan untuk rekonstruksi peristiwa masa lalu Semarang,” jelas tutur pria yang sedang menempuh pendidikan Magister Arkeologi Universitas Indonesia ini.(sm/ton/ton/JPR)



