NASIONAL

Kisah Para Guru Peserta Space Camp di Pusat Angkasa Luar AS

×

Kisah Para Guru Peserta Space Camp di Pusat Angkasa Luar AS

Sebarkan artikel ini

Selain itu, karya Nur yang membanggakan yang menang dalam ajang Japan Education for Sustainable Development (ESD) Award pada 2016 adalah charger handphone dari map plastik. “Aku bikin step up dan pakai dinamo. Kami atur. Itu mengandalkan putaran air. Alatnya sangat kecil,” jelas guru yang telah mengabdi selama sembilan tahun itu.

Ternyata, itu bukan satu-satunya ajang kompetisi internasional yang diikuti Nur. Dia telah mengikuti berbagai lomba serupa dan selalu menang. Misalnya, Mathematics Using ICT SEAMEO QITEP In Mathematics, Environment and Sustainable Development Goals SEAMEO QITEP In Science, serta World Culture Forum UNESCO. “Jadi, murid senang. Guru nggak cuma ceramah. Tapi ada medianya. Medianya juga murah. Tidak harus yang canggih dan mahal sehingga orang tuanya pun senang,” katanya.

Bank bjb Tandamata

“Semakin hari nilainya kian bagus. Awalnya siswa sering bolos, tetapi sekarang rajin. PR yang saya berikan sifatnya praktik, bukan tertulis,” beber lulusan S-2 psikologi pendidikan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta itu, lantas tersenyum.

Rupanya, penghargaan yang didapat dari Japan ESD tersebut tidak hanya mengangkat sosok dirinya sebagai guru berprestasi. Tetapi, hal itu juga merealisasikan harapan guru dan murid di sekolahnya untuk mendapat fasilitas pendidikan yang layak.

Sejak itu, sejumlah organisasi dunia, salah satunya UNESCO, mengundang Nur untuk mempresentasikan kondisi sekolah tempatnya mengajar. Dia menceritakan kondisi apa adanya. Karena itu pula, pemerintah mulai memberikan perhatian. Itu terjadi setelah enam tahun berturut-turut pengajuan renovasi mereka selalu ditolak pemerintah daerah.

“Dua bulan kemudian, sejak saya menang di Japan ESD, tepatnya Februari 2017, Dirjen Dikdasmen mengunjungi sekolah kami. Mereka mengecek kondisi sekolah. Akhirnya kami mendapat bantuan hampir Rp 2 miliar,” beber Nur.